SURABAYA Upaya pemerintah mencapai swasembada pangan, khususnya gula, semakin gencar. Kali ini, Kementerian Pertanian memperkuat kolaborasinya dengan Badan Usaha Milik Negara. Mereka menunjuk PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) anak usaha PTPN III sebagai motor penggerak utama untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.
Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, peran BUMN pangan ini krusial. Keberhasilan swasembada, tegasnya, sangat bergantung pada kinerja mereka dalam mengelola komoditas strategis. Itu sebabnya, pemerintah rutin memantau progres integrasi lahan dan produktivitas yang dikelola oleh grup PTPN.
“Kami diberi target oleh Bapak Presiden dan diminta laporan secara rutin terkait BUMN pangan,” ujar Amran.
“Karena sektor inilah yang menjadi motor penggerak utama kemandirian pangan kita,” tambahnya dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Arahan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Swasembada Pangan di Nusantara Hall SGN, Surabaya, beberapa hari sebelumnya, tepatnya Minggu (19/4).
Di sisi lain, pihak SGN menyambut baik peran yang diberikan. Direktur Utama SGN, Mahmudi, menyatakan kesiapan perseroan untuk mengakselerasi target tersebut. Caranya? Dengan menguatkan produktivitas dari hulu hingga efisiensi di hilir. Intinya, mereka ingin industri gula nasional lebih kompetitif agar tak terus bergantung pada impor.
“SGN berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi dan daya saing industri gula,” jelas Mahmudi.
“Ini adalah kontribusi nyata BUMN dalam mewujudkan kemandirian pangan Indonesia,” tegasnya.
Rapat koordinasi itu sendiri juga jadi ajang evaluasi. Sejumlah program strategis dibahas, termasuk bagaimana peran holding perkebunan bisa dioptimalkan untuk menjaga stok gula nasional tetap stabil. Hal ini penting mengingat gula adalah komoditas yang sensitif. Harganya langsung berpengaruh pada inflasi dan tentu saja, kesejahteraan masyarakat biasa.
Transformasi lewat SGN diharapkan bisa menciptakan ekosistem perkebunan yang berkelanjutan. Fokusnya sekarang tak cuma menambah luas lahan tanam. Pemerintah juga menaruh perhatian pada peningkatan rendemen dan modernisasi pabrik-pabrik gula. Tujuannya jelas: swasembada, baik untuk gula konsumsi maupun industri.
“Melalui kolaborasi antara regulator dan operator BUMN, kami optimis ketahanan pangan nasional bisa tercapai secara berkelanjutan,” tutur Amran. Dampaknya, struktur ekonomi di sektor agribisnis pun diharapkan ikut terdongkrak.
Lalu, bagaimana kondisi riil di lapangan? Data Kementan dari evaluasi akhir giling 2025 menunjukkan produksi gula nasional mencapai 2,67 juta ton. Angka itu memenuhi sekitar 97,54% dari target yang ditetapkan. Sementara produksi tebu nasional tahun lalu menyentuh 39,07 juta ton, dengan produktivitas rata-rata 69,35 ton per hektare.
Roadmap yang ada memang ambisius. Berdasarkan Kepmenko Nomor 418 Tahun 2023, pemerintah menargetkan produksi gula nasional melesat jadi 3,27 juta ton pada 2027. Namun, proyeksi untuk tahun ini lebih realistis. Dari pertemuan taksasi awal giling di Surabaya pada 17 April 2026, produksi Gula Kristal Putih (GKP) tahun 2026 diproyeksikan mencapai 3,04 juta ton.
Beberapa angka patut dicermati. Luas areal panen tebu yang ada saat ini sekitar 576.538 hektare. Rata-rata hasil GKP diperkirakan 5,28 ton per hektare, dengan produktivitas tebu di angka 70,87 ton per hektare. Rendemen nasional diproyeksikan sekitar 7,45%.
Dengan kebutuhan gula konsumsi masyarakat tahun ini yang diperkirakan sekitar 2,8 juta ton, ada potensi surplus sekitar 0,2 juta ton untuk kebutuhan rumah tangga. Sebuah titik terang, meski perjalanan menuju swasembada penuh masih panjang.
Artikel Terkait
JK Serahkan Penilaian Video Viral ke Publik dan Minta Ahli IT Telusuri Asal-usul
Puan Maharani Serukan Kritik Disampaikan dengan Etika dan Santun
Polisi Sita 3,6 Kilogram Ganja yang Dikirim via Ekspedisi di Tanah Abang
Tokoh Perdamaian Malino Bela JK, Tegaskan Ceramah UGM Bukan Penistaan Agama