Operasi Lintas Negara Berhasil Ringkus Mami di Balik Jaringan Sabu 2 Ton

- Kamis, 04 Desember 2025 | 11:30 WIB
Operasi Lintas Negara Berhasil Ringkus Mami di Balik Jaringan Sabu 2 Ton

Operasi senyap yang melibatkan banyak pihak akhirnya berhasil meringkus Paryatin, atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Astutik. Wanita asal Ponorogo, Jawa Timur ini disebut-sebut sebagai aktor intelektual di balik penyelundupan sabu seberat 2 ton. Penangkapan itu adalah hasil kolaborasi BNN dengan Kepolisian Kamboja dan beberapa instansi terkait lainnya.

Menurut Biro Humas BNN, bisnis haram Dewi Astutik sudah berjalan sejak 2023.

"Dewi Astutik diketahui memulai bisnisnya pada 2023 dan beroperasi di Golden Triangel (Thailand, Myanmar, Laos)," jelas mereka, Kamis lalu.

Kawasan itu, yang sering disebut The Golden Triangle, memang punya sejarah kelam. Namanya berasal dari 'emas hitam' alias opium. Dulu, ketiga negara itu bahkan termasuk penghasil opium terbesar, bukan cuma di Asia Tenggara, tapi juga di dunia.

Namun begitu, jaringan Dewi ternyata tak cuma beroperasi di sana. BNN menyebutkan dia juga aktif di wilayah Golden Crescent atau 'bulan sabit emas' di Asia Selatan. Kawasan yang meliputi pegunungan Afghanistan, Iran, dan Pakistan ini dikenal sebagai pusat produksi dan distribusi opium global. Bentuk pegunungannya sendiri konon mirip bulan sabit.

"Dewi Astutik alias Mami, buronan internasional dan aktor intelektual penyelundupan 2 ton sabu jaringan Golden Triangle yang digagalkan pada Mei 2025 serta beberapa kasus besar tahun 2024 yang terkait jaringan Golden Crescent," tegas juru bicara BNN.

Modus operasinya kejam. Dia merekrut WNI yang menganggur di Kamboja untuk dijadikan kurir. Jaringannya luas, membentang dari Laos, Hongkong, Korea, hingga ke Brasil dan Ethiopia. Sampai saat ini, perempuan ini masih terhubung dengan jaringan Kamboja, Nigeria, dan Brasil.

Diringkas di Lobi Hotel

Penangkapan Dewi Astutik di Sihanoukville, Kamboja, adalah sebuah operasi rumit yang melibatkan banyak pihak. BNN, polisi setempat, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan, BAIS TNI, sampai Ditjen Bea Cukai semua bersinergi mengejar buronan kasus narkoba senilai Rp 5 triliun ini.

Semuanya berawal dari perintah Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, yang sebulan sebelumnya meminta dibentuknya tim khusus. Operasi pengejaran internasional itu kemudian dipimpin langsung oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan.

Dan akhirnya, mereka mengetuk. Saat itu, Dewi yang juga jadi buronan Korea Selatan, sedang menuju lobi sebuah hotel di Sihanoukville. Semua berjalan cepat dan presisi, tanpa kegaduhan yang berarti.

Dia tidak sendirian. Seorang lelaki asal Pakistan berinisial AH turut diamankan. Pria ini diduga merupakan kekasih Dewi Astutik. Setelah ditangkap, keduanya langsung dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antar otoritas. Satu babak penting dalam perang melawan narkoba pun berhasil ditutup.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar