Menteri Lingkungan Hidup Peringatkan Jawa Barat di Ambang Kerentanan Bencana

- Rabu, 03 Desember 2025 | 14:00 WIB
Menteri Lingkungan Hidup Peringatkan Jawa Barat di Ambang Kerentanan Bencana

Rapat Kerja Komisi XII DPR di Senayan, Rabu (3/12), diwarnai peringatan serius dari Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq. Fokusnya: Jawa Barat. Menurut Hanif, provinsi itu kini dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

“Coba lihat Jawa Barat,” ujarnya. “Mereka sudah kehilangan kawasan lindung hingga 1,2 juta hektare. Yang tersisa cuma sekitar 400 ribu hektare.”

Angka itu bukan sekadar statistik. Hanif menegaskan, hilangnya bentang alam pelindung itu membuat Jawa Barat jadi daerah yang rentan bencana. Ekosistem di bawahnya nyaris tak lagi punya tameng.

Ia merasa langkah yang diambil justru berkebalikan dengan kebutuhan. “Harusnya kawasan lindung ditingkatkan, bukan malah dihilangkan,” tegasnya. Untuk mengingatkan bahaya ini, pihaknya sudah mengirim surat ke berbagai instansi. Namun, Hanif merasa perlu dukungan politik yang lebih kuat dari parlemen.

“Kami sudah menyurati banyak pihak. Tampaknya, kita butuh dukungan politik dari Komisi XII untuk mengingatkan semua agar taat pada daya dukung lingkungan dalam perencanaan tiap daerah. Mitigasi bencana harus jadi prioritas,” ungkap Hanif.

Peringatannya bukan tanpa dasar. Hanif lalu menyoroti bencana banjir dan longsor yang baru saja melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar. Pemicunya adalah siklon tropis yang membawa hujan ekstrem bahkan mencapai 300-400 mm pada puncaknya.

Sebagai perbandingan, ia menyebut banjir Ciliwung Februari lalu. Curah hujan saat itu ‘hanya’ 147 mm, tapi sudah menewaskan 17 orang. Begitu pula bencana di Bali Agustus kemarin, dengan hujan 245 mm dan korban 21 jiwa. Artinya, hujan dari siklon di Sumatera itu intensitasnya lebih dari dua kali lipat.

Nah, di sinilah kekhawatiran terbesarnya. Bayangkan jika siklon serupa bergerak ke arah Pulau Jawa. “Potensi bencananya akan sangat besar,” kata Hanif. Ia mendesak agar langkah strategis segera diambil, tanpa menunggu lama.

“Kita tidak mungkin terus menunggu perundingan internasional selesai. Sementara bencana sudah ada di depan mata. Inisiatif adaptasi harus segera kita jalankan,” imbuhnya.

Peringatan itu menggantung di ruang rapat. Sebuah ajakan untuk bertindak, sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar