Agam Darurat Logistik: Dari Alat Berat hingga Trauma Healing Dibutuhkan

- Selasa, 02 Desember 2025 | 13:25 WIB
Agam Darurat Logistik: Dari Alat Berat hingga Trauma Healing Dibutuhkan

Kabupaten Agam masih bergulat dengan dampak bencana. Di tengah upaya pencarian dan evakuasi, kebutuhan logistik darurat ternyata masih sangat besar. Tak cuma untuk operasi penyelamatan, tapi juga untuk memastikan korban yang selamat bisa bertahan dengan layak.

Menurut Rahmat Lasmono, Kepala Pelaksana BPBD Agam, alat berat jadi salah satu kebutuhan yang paling krusial saat ini. Mereka masih membutuhkan puluhan unit.

"Alat ini sangat dibutuhkan untuk membuang materi tanah dalam pencarian korban hilang, bersihkan jalan, mendistribusikan air bersih, untuk penerapan dan lainnya," ujar Rahmat di Lubuk Basung, Selasa lalu.

Selain alat berat, daftar kekurangan ternyata panjang. Mobil tangki air, genset, hingga toren air masih sangat dibutuhkan. Bahkan hal-hal mendasar seperti bahan bakar untuk menjalankan semua peralatan itu juga menipis.

Di sisi lain, kebutuhan korban di posko pengungsian juga tak kalah mendesak. Stok pangan pokok perlahan habis. Yang lebih menghawatirkan, kebutuhan khusus seperti makanan dan susu bayi mulai langka. Sandang untuk bertahan hidup pakaian dalam, perlengkapan mandi, alat salat juga masih jadi barang yang dicari.

"Kita juga kekurangan peralatan masak dan peralatan makanan," tambah Rahmat.

Kalau dirinci, daftarnya semakin runyam. Mulai dari popok bayi, kebutuhan wanita, selimut, kasur, sampai obat-obatan dan P3K. Masker dan vitamin juga termasuk. Rasanya seperti mengisi ulang seluruh persediaan hidup dari nol.

Namun begitu, kebutuhan tak cuma bersifat fisik. Banyak korban, terutama anak-anak, mengalami tekanan psikologis yang berat. Karena itu, selain bantuan fisik, mereka juga sangat membutuhkan dukungan trauma healing dan psikososial. Tenaga pendamping, ruang ramah anak, sampai konseling untuk keluarga terdampak menjadi hal yang tak kalah penting untuk pemulihan jangka panjang.

Bencana yang dipicu curah hujan tinggi ini memang menghantam cukup parah. Longsor, banjir bandang, hingga angin kencang menerjang 16 kecamatan di Agam. Akibatnya tragis: 130 orang meninggal, 71 lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara itu, ribuan orang tepatnya sekitar 6.300 warga terpaksa mengungsi, dan puluhan lainnya masih dirawat di rumah sakit.

Situasinya jelas belum stabil. Dan bantuan, dari yang paling teknis sampai yang paling manusiawi, masih sangat dinantikan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar