Sesampainya di rumah, MAR langsung menyatakan keinginannya untuk berhenti sekolah kepada ibunda. Keesokan harinya, kondisi tubuhnya tiba-tiba drop. Ia mengalami kelumpuhan, dan barulah saat itu ia bercerita bahwa kepalanya ditendang oleh FT.
Keterbatasan ekonomi sempat membuat keluarga membawanya ke pengobatan alternatif. Tapi, penyembuh justru menyarankan agar MAR segera dilarikan ke rumah sakit.
Malang tak dapat ditolak. Pada Minggu (23/11) dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, nafas MAR berhenti untuk selamanya. Ia menghembuskan nafas terakhir dalam hening, saat seluruh keluarganya terlelap.
Yang lebih memilukan, ini bukan kali pertama MAR mengalami kekerasan. Ternyata pada Oktober lalu, ia juga sempat menjadi sasaran bully dari teman lain. Dada korban kerap dipukuli, sampai-sampai ia harus dirawat intensif selama seminggu penuh di RS PMC Pekanbaru.
Artikel Terkait
Pengadilan Vonis 15 Tahun Penjara untuk Anak Riza Chalid atas Korupsi Minyak Rugikan Negara Rp285 Triliun
Pemerintah AS Ajukan Permintaan ke Mahkamah Agung untuk Cabut Status Perlindungan Warga Suriah
Kaesang Buka Safari Ramadan PSI dengan Kunjungan ke Dua Ponpes di Pandeglang
Anak Buronan Riza Chalid Divonis 15 Tahun Penjara dan Denda Rp 2,9 Triliun