Trump Usulkan Warsh Gantikan Powell, Wall Street Tutup Pekan dengan Aksi Jual

- Senin, 02 Februari 2026 | 06:12 WIB
Trump Usulkan Warsh Gantikan Powell, Wall Street Tutup Pekan dengan Aksi Jual

Wall Street menutup pekan dengan catatan merah. Pada Jumat (30/1) lalu, sentimen pasar tampak lesu. Investor seolah-olah menahan napas, mencermati dua hal sekaligus: laporan kinerja perusahaan yang beragam dan ancaman inflasi yang masih membayang. Namun, ada satu berita yang benar-benar menyita perhatian: Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh, mantan Gubernur The Fed, untuk menggantikan Jerome Powell.

Indeks-indeks utama berguguran. Dow Jones anjlok 179,09 poin (0,36%) ke 48.892,47. Sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite mengalami tekanan lebih dalam, masing-masing merosot 0,43% dan 0,94%. Pelemahan ini tak lepas dari kekhawatiran yang bertumpuk.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik dengan Iran dan ancaman "shutdown" pemerintahan AS yang kembali mengintip di Senat turut menambah beban psikologis. Pasar jelas tidak suka ketidakpastian.

Nama Kevin Warsh pun langsung jadi bahan perbincangan panas. Di usianya yang ke-55, mantan pejabat The Fed ini diperkirakan akan bersikap lebih "dovish" atau mendukung penurunan suku bunga. Tapi, jangan harap ia akan setuju dengan pelonggaran moneter yang agresif. Itu poin pentingnya. Masa jabatan Powell berakhir Mei nanti, dan jika dikonfirmasi Senat, Warsh akan memimpin bank sentral yang selama ini sering ia kritik karena dinilai terlalu ikut campur dalam perekonomian.

“Pasar sedang menyesuaikan diri dengan pilihan Trump terhadap Kevin Warsh dan prospek kebijakan moneter,” ujar Michael Hans, Chief Investment Officer di Citizens Wealth.

Ia juga menyoroti sebuah pembalikan pola: dolar AS menguat, sementara logam mulia seperti emas dan perak dibantai habis-habisan.

Sektor material jadi korban utama, ambles 1,9% seiring dengan aksi jual di saham-saham tambang. Berbanding terbalik, sektor barang konsumsi defensif justru naik 1,4%, dipimpin oleh Colgate-Palmolive yang melonjak hampir 6% berkat proyeksi penjualan yang optimis.

Nah, soal laporan kinerja, reaksinya beragam banget. Apple, misalnya, berhasil bangkit 0,4% setelah sempat tertekan. Mereka memproyeksikan pertumbuhan pendapatan yang cukup menjanjikan untuk kuartal depan, meski mengeluh soal tekanan harga chip yang menggerus profit.

Tapi nasib baik tidak menghampiri semua raksasa teknologi. Microsoft masih terpukul, turun 0,7% setelah sehari sebelumnya terjun bebas 10% karena kinerja cloud-nya mengecewakan. Meta juga ikut terpuruk, melemah 3%.

Yang menarik justru Tesla. Setelah sempat jatuh, sahamnya malah melonjak 3,3% di hari Jumat dan jadi penyumbang kenaikan terbesar untuk S&P 500. Kabar soal kemungkinan kolaborasi dengan SpaceX, perusahaan Elon Musk yang lain, rupanya mampu memompa semangat investor.

Secara keseluruhan, suasana perdagangan memang lebih banyak muramnya. Di NYSE, lebih banyak saham yang melemah daripada yang menguat. Volume perdagangan juga relatif tinggi, mencapai 23,88 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari.

Meski pekan ini berakhir suram, kalau dilihat dari performa sebulan penuh, ceritanya berbeda. Indeks Russell 2000, misalnya, masih mencatatkan kenaikan bulanan lebih dari 5%, mengalahkan kinerja S&P 500 dan Nasdaq. Bahkan Dow Jones berhasil meraih kenaikan bulanan ke-9 berturut-turut rekor terpanjang sejak 2018. Jadi, meski hari ini diguyur hujan, secara keseluruhan bulan Januari masih cerah bagi Wall Street.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler