Banjir Keempat di Pamarayan, Rakit Darurat Jadi Penyelamat Warga

- Jumat, 23 Januari 2026 | 20:45 WIB
Banjir Keempat di Pamarayan, Rakit Darurat Jadi Penyelamat Warga

Bagi warga Pamarayan di Kabupaten Serang, banjir sudah seperti tamu rutin yang datang tanpa diundang. Baru masuk Januari 2026, tapi wilayah mereka sudah kebanjiran sampai empat kali. Sungguh melelahkan.

“Ini yang keempat kalinya. Air datang, surut, lalu datang lagi. Dan yang sekarang ini paling parah,” ujar Madroni, atau yang akrab disapa Away, Ketua Karang Taruna setempat.

Dia bercerita, genangan air sudah menggenangi permukiman selama dua hari penuh. Dan hari ini, bukannya surut, malah makin naik hingga merembes masuk ke dalam rumah-rumah. Menurut Away, warga sebenarnya sudah nggak kaget lagi. Tapi kewaspadaan tetap dijaga, siapa tahu situasinya makin buruk.

“Banjir itu sudah langganan tahunan. Kalau musim hujan tiba, ya sudah pasti kami kebanjiran. Bukan cuma tahun ini, tahun-tahun kemarin juga sama saja. Jadi ya, ini sudah biasa,” katanya lagi, terdengar pasrah namun tetap sigap.

Karena belum ada lokasi pengungsian resmi, warga yang rumahnya terendam terpaksa mengungsi ke tetangga yang lebih beruntung, rumahnya masih kering.

Di tengah situasi itu, Away dan beberapa pemuda lain tak tinggal diam. Mereka berinisiatif membuat rakit darurat. Rakit itu jadi penolong utama untuk mobilitas warga, mulai dari menyeberangkan motor, membantu lansia, sampai mengantar anak-anak sekolah.

“Kami juga siapkan gerobak buat yang mau lewat, baik yang berangkat kerja atau anak-anak sekolah,” tambah Away.

Di sisi lain, data dari Polres Serang menyebutkan pemicu banjir adalah luapan dari Sungai Susukan dan Sungai Cikambuy. Ketinggian airnya bervariasi, ada yang baru sebetis 20 sentimeter, tapi ada juga yang mencapai 1,5 meter nyaris setinggi orang dewasa.

Dampaknya terasa di lima kampung. Yang paling parah adalah Kampung Muncel dan Kampung Bojong Madang. Keduanya sempat terisolasi karena jalan utamanya hilang ditelan genangan.

Bukan cuma rumah warga yang terendam. Sekolah pun ikut menjadi korban. SMAN 1 Pamarayan kebanjiran dengan ketinggian 20 hingga 40 sentimeter, yang otomatis menghentikan aktivitas belajar mengajar. Ruang kelas sepi, digantikan oleh air yang menggenang.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar