"Dalam konteks tersebut, kehadiran TNI menjadi sangat krusial untuk melindungi objek vital nasional, serta membantu pemerintah mengamankan aset bangsa dari berbagai bentuk penyalahgunaan," jelas Kolonel Agung.
Respons Cepat Atas Arahan Presiden
Latihan ini merupakan implementasi langsung instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan peran aparat dalam mengamankan aset nasional. Presiden sebelumnya telah mengungkap keberadaan sekitar 1.000 titik tambang ilegal yang beroperasi di wilayah Bangka Belitung.
Sebagai respons strategis, TNI mengerahkan kekuatan tempur lengkap termasuk 41.377 prajurit yang didukung oleh puluhan kendaraan tempur Rantis Maung, 15 drone taktis, tiga Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), dua Kapal Angkatan Laut (KAL), serta berbagai pesawat tempur dan helikopter termasuk F-16, C-130 Hercules, dan heli Caracal.
Demonstrasi Kekuatan Udara dan Laut
Dalam rangkaian latihan, Menhan dan Panglima TNI menyaksikan langsung demonstrasi Serangan Udara Langsung (SUL) oleh tiga pesawat F-16 dari Wing Udara 31. Manuver tempur dilanjutkan dengan penerjunan taktis ratusan personel Batalyon Infanteri 501/18/2/K.
Latihan juga mencakup simulasi penangkapan ponton ilegal dan perebutan cepat sasaran galian pasir, dengan peninjauan hasil operasi di Dermaga Belinyu dan lokasi galian pasir di Dusun Nadi. Operasi ini menunjukkan kemampuan TNI dalam melakukan intervensi cepat terhadap aktivitas ilegal di wilayah perairan dan daratan.
Artikel Terkait
Jaksa Italia Selidiki Tragedi Bar Swiss yang Tewaskan 40 Orang
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Bupati Bekasi dan Wakil Ketua DPRD
Tragedi di Gaza: Drone Israel Tewaskan Empat Anak dalam Serangan ke Tenda Pengungsi
Survei LSI: Mayoritas Publik Tolak Pilkada Lewat DPRD, Istana Angkat Bicara