Di sebuah konferensi pers yang ramai di Jakarta, Senin lalu, Joko Anwar terlihat santai membedah proses kreatif film terbarunya. Film horor komedi "Ghost in the Cell" atau "Hantu di dalam Penjara" ini bakal tayang mulai 16 April. Bagi sutradara ini, film bukan cuma sekadar hiburan. Ia menekankan pentingnya kedalaman karakter dan bagaimana sebuah karya harus tetap nyambung dengan realitas sosial di sekitar kita.
Nah, soal karakter, cara Joko menyiapkan pemainnya bisa dibilang ekstrem. Bayangkan, untuk 40 karakter yang ada, ia menulis riwayat hidup masing-masing dengan sangat detil. Semuanya.
Ia ambil contoh Tokek, yang diperankan Aming. Karakter ini mungkin akan dilihat sebagai si jahat. Tapi Joko memastikan dia punya latar belakang dan trauma yang kuat. "Walaupun dia dianggap karakter evil, tapi dia karakter utuh. Dia mengalami trauma misalnya. Jadi ketika dia berbuat seperti itu, dia tidak punya intention untuk jadi jahat," jelasnya. Jadi, nggak ada yang hitam putih begitu saja.
Hal unik lain? Kru teknisnya ikut main. Jaisal Tanjung, sang sinematografer yang akrab disapa Ical, misalnya, berperan sebagai seorang wakil menteri. "Cocok enggak mukanya?" canda Joko. Lalu ada Tony Merle, penyanyi lagu "The Rising Man" yang jadi soundtrack film, juga tampil. Rupanya ini sudah jadi kebiasaan. Setiap film produksinya punya dua versi video panduan: satu diperankan aktor, satunya lagi oleh kru. "Kru kita semua hafal dialog," tambahnya sambil tertawa.
Lalu, bagaimana dengan genre horor komedi yang diusung? Joko punya pandangan menarik. Menurutnya, di Indonesia, ketegangan dan tawa itu seringkali jadi satu paket. Komedi justru bisa mempertajam tensi.
Artikel Terkait
Komnas HAM Masih Tunggu Konfirmasi Kehadiran Empat Prajurit TNI Tersangka Penyiraman KontraS
Gubernur DKI Peringatkan Keras PPSU di Town Hall Usai Kasus Manipulasi Aduan JAKI
Putin Umumkan Gencatan Senjata Sehari untuk Paskah Ortodoks
Anggota DPR Desak Kemnaker Perbaiki Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan