Gen Z Dinilai Lebih Rentan Alami Duck Syndrome, Psikiater Ungkap Cara Mengatasinya

- Senin, 25 Mei 2026 | 14:00 WIB
Gen Z Dinilai Lebih Rentan Alami Duck Syndrome, Psikiater Ungkap Cara Mengatasinya

Fenomena Duck Syndrome, atau sindrom bebek, belakangan ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Kondisi psikologis ini menggambarkan seseorang yang tampak tenang dan santai di permukaan, namun di dalamnya penuh perjuangan dan tekanan. Meskipun tidak menyerang generasi tertentu secara eksklusif, generasi Z dinilai lebih rentan mengalami sindrom ini.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Elli Misnawati, Sp.KJ, dalam sebuah siniar menjelaskan bahwa Gen Z adalah kelompok yang lahir di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan media sosial. Menurutnya, kemajuan tersebut memberikan kebebasan yang lebih besar, tetapi juga menimbulkan tekanan sosial yang lebih tinggi.

“Jadi dengan kemajuan teknologi, media sosial, memberikan suatu kebebasan yang lebih besar, tapi di samping itu juga bisa menimbulkan tekanan sosial yang lebih tinggi terhadap orang-orang yang berada di periode Gen Z ini. Tentu, dampaknya itu bisa mempengaruhi pola tumbuh atau pola pikir dari orang-orang yang hidup atau dilahirkan di periode Gen Z,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan bahwa Duck Syndrome tidak hanya terjadi pada Gen Z, melainkan bisa dialami oleh semua kalangan. Gen Z hanya lebih mudah terpapar karena tumbuh di era digital yang serba cepat dan penuh tuntutan.

Lantas, kapan Duck Syndrome bisa dikatakan berbahaya? Dokter Elli menyampaikan bahwa sindrom ini belum masuk ke dalam kategori psikiatrik, sehingga belum ada terapi khusus. Meski demikian, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

“Pertama, bisa membangun kesadaran diri kita, bahwa hidup itu tidak harus selalu berkompetisi dengan orang lain. Hidup itu tidak perlu mencari validasi dari orang lain dan hidup itu tidak harus sempurna,” katanya.

Kedua, ia menekankan pentingnya mengelola ekspektasi terhadap diri sendiri. “Sebagai manusia harusnya sadar bahwa kita itu punya kapasitas mental untuk bisa merasa tidak baik-baik saja, dan ketika tidak sedang baik-baik saja kita tidak perlu merasa itu sebagai aib atau kita tidak perlu merasa malu untuk membicarakannya,” tuturnya.

Menurutnya, Duck Syndrome dapat menjadi masalah jika gejala psikologis yang dialami seseorang semakin berat dari hari ke hari dan mulai memengaruhi fungsi kehidupan sosial atau aktivitas sehari-hari. Ia menjelaskan, apabila gejala-gejala tersebut telah berkembang menjadi gangguan psikiatrik lain, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan perasaan lainnya, maka saat itulah seseorang perlu menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan profesional.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar