Strategi AS Menghadapi Iran: Pelajaran dari Saddam, Qadafi, dan Ketangguhan Khamenei
Penulis: Ismail Amin
Amerika Serikat memiliki pola yang jelas dalam menjatuhkan pemimpin negara yang berseberangan. Sejarah mencatat, AS tidak berani mengusik Saddam Hussein atau Muammar Qadafi di masa kejayaan mereka. Kesabaran AS terbukti dengan menunggu hingga kedua pemimpin itu memasuki usia senja, kekuasaannya mulai goyah oleh pengkhianatan internal, dan rakyatnya mengalami kelelahan mental untuk terus berkonfrontasi. Barulah kemudian, operasi militer dilancarkan.
Pola yang sama ingin diterapkan AS terhadap Iran. Mereka menunggu dengan sabar hingga Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei, memasuki usia lanjut. Di bawah kepemimpinan Donald Trump yang bergaya koboi, AS merasa percaya diri dapat menaklukkan Iran. Sebuah operasi militer dirancang melalui Israel, yang kemudian melancarkan serangan mendadak yang menargetkan para petinggi militer Iran. Strategi ini mirip dengan yang sukses digunakan Israel untuk menaklukkan Mesir, Suriah, dan Yordania dalam Perang Enam Hari.
Namun, Iran membuktikan diri sebagai lawan yang berbeda. Meski sejumlah perwira tinggi militernya gugur, transisi kepemimpinan militer berjalan sangat cepat dan terukur. Iran tidak lumpuh, justru membalas dengan serangan yang tidak terduga. Serangan balasan Iran dilaporkan menghantam Tel Aviv dan Haifa, menembus sistem pertahanan udara Israel yang diandalkan. Perang yang diperkirakan akan berlangsung singkat justru memasuki hari-hari panjang, dengan Iran terus meluncurkan roket tanpa tanda-tanda kehabisan amunisi. Situasi ini memaksa AS untuk turun tangan secara langsung.
Perang dinyatakan berakhir dalam 12 hari, namun AS dan Israel tidak dapat mengklaim kemenangan mutlak. Iran tetap berdiri tegak. Yang lebih mengejutkan dunia, Ayatullah Khamenei yang berusia 86 tahun justru terlihat segar bugar dan tetap menghadiri berbagai acara terbuka dengan senyum percaya diri, menunjukkan ketangguhan mental dan fisik yang luar biasa.
Menyikapi kegagalan AS tersebut, Ayatullah Khamenei memberikan pernyataan yang menusuk, "Amerika selalu salah dalam menilai Iran….". Pernyataan ini bukan hanya sekadar sindiran, tetapi juga penegasan bahwa kekuatan Iran terletak pada persiapan, strategi, dan soliditas yang sering diremehkan oleh musuh-musuhnya.
Artikel Terkait
Abdul Hayat Gani Pimpin Perindo Sulsel, Komitmen Tinggalkan Kepemimpinan Transaksional
Polda Kalbar Musnahkan 12 Kilogram Sabu Hasil Pengungkapan Jaringan Narkoba
Mahfud MD Apresiasi Prabowo Undang Tokoh Kritis untuk Jembatani Kesenjangan Informasi
PBNU Tetapkan Jadwal Munas, Konbes, dan Muktamar ke-35 pada 2026