Normalisasi Indonesia-Israel di Bawah Prabowo: Mungkinkah Terjadi?

- Senin, 03 November 2025 | 05:20 WIB
Normalisasi Indonesia-Israel di Bawah Prabowo: Mungkinkah Terjadi?

Indonesia dan Israel: Mungkinkah Normalisasi Hubungan di Bawah Kepemimpinan Prabowo?

Presiden Donald Trump dalam kunjungannya ke Asia mengungkapkan apresiasi terhadap dukungan Indonesia dalam upaya perdamaian Israel-Hamas. Trump secara khusus menyebut nama Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di KTT Perhimpunan Bangsa-Bangsa Tenggara di Malaysia.

"Saya ingin berterima kasih kepada Malaysia dan Brunei serta teman saya, Presiden Prabowo dari Indonesia, atas dukungan luar biasa mereka terhadap upaya-upaya ini untuk mengamankan hari baru bagi Timur Tengah," ujar Trump. Pernyataan ini mengindikasikan potensi normalisasi hubungan antara Indonesia dan Israel.

Peluang Normalisasi Indonesia-Israel Pasca Gencatan Senjata Gaza

Pasca gencatan senjata antara Israel dan Hamas, Indonesia muncul sebagai mitra potensial bagi Gedung Putih. Pemerintahan Trump berupaya memperluas Perjanjian Abraham yang telah menjalin hubungan diplomatik antara Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.

Pejabat senior Gedung Putih menyatakan keyakinan bahwa perdamaian permanen di Gaza dapat membuka jalan bagi Indonesia dan Arab Saudi untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Namun, Indonesia secara konsisten menegaskan bahwa normalisasi harus diawali dengan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Kepentingan Strategis Indonesia dalam Hubungan Internasional

Prabowo Subianto menunjukkan minat untuk memperluas pengaruh global Indonesia. Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi pertimbangan Indonesia termasuk:

  • Keinginan bergabung dengan OECD untuk meningkatkan profil internasional
  • Potensi investasi AS dalam industri rare-earth Indonesia
  • Dominasi Indonesia dalam pasar nikel global yang penting untuk baterai kendaraan listrik

Tantangan dan Peluang Normalisasi Hubungan

Meskipun terdapat peluang, Indonesia tetap berpegang pada prinsip dasar dukungan terhadap Palestina. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Yvonne Mewengkang, menegaskan bahwa visi apa pun terkait Israel harus dimulai dengan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Para analis menilai bahwa pendekatan transaksional Trump mungkin membuka peluang baru. Daniel Shapiro, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, menyatakan bahwa jika Indonesia memiliki kepentingan strategis tertentu dengan Amerika Serikat, normalisasi dengan Israel bisa menjadi pertimbangan.

Perkembangan hubungan Indonesia-Israel akan terus menjadi perhatian dalam peta politik internasional, terutama dengan posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar