Topi Robek dan Mimpi Lebaran Albert, Bocah Pala yang Kini Punya Harapan Baru

- Kamis, 18 Desember 2025 | 09:54 WIB
Topi Robek dan Mimpi Lebaran Albert, Bocah Pala yang Kini Punya Harapan Baru

Ternate memang terkenal dengan palanya. Rempah beraroma tajam itu bukan cuma jadi kebanggaan, tapi juga tulang punggung hidup bagi banyak keluarga. Bahkan, anak-anak pun ikut terjun ke kebun, ada yang sampai rela tak bersekolah demi membantu mencari nafkah.

Ambil contoh Almahdi Rahman. Bocah berusia 12 tahun yang akrab disapa Albert ini adalah siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 26 Ternate. Ia sudah akrab dengan bau khas dan tekstur buah pala sejak kecil. Hampir tiap hari, buah kecil itu ia genggam dan masukkan ke dalam tas kecil di punggungnya. Semua dilakoni untuk menabung, demi satu mimpi sederhana: punya baju baru saat Lebaran.

"Topi ini beli pakai uang sendiri," katanya suatu kali, memegang erat topi hijau yang sudah robek di beberapa bagian. Barang itu tampak begitu berharga di matanya.

Memang, di usia yang masih belia, Albert sudah paham betul arti kerja keras dan menyisihkan uang. Ia tinggal di Kulaba, dalam rumah sederhana berdinding papan beratap seng, bersama orang tua, dua kakak, dan satu adik. Sebelum mengenal Sekolah Rakyat, kesehariannya lebih banyak diisi oleh kebun pala.

"Sehari-hari pergi ke kebun pala, buat cari duit," ujarnya santai. Rutinitas yang bagi anak lain mungkin terasa berat, baginya sudah jadi hal biasa.

Kalau panennya bagus, ia bisa membawa pulang sekitar Rp 50 ribu. Pala-pala itu ia jual ke pedagang langganan dekat rumah. Di hari-hari ia tak ke kebun, Albert membantu orang tuanya mengangkat karung atau menyapu halaman. Tapi ia tetap punya waktu untuk bermain. Laut adalah taman bermainnya; berenang, menyelam, atau sekadar mencari ikan bersama teman.

Soal makan, ia tak pilih-pilih. "Makan apa saja bisa," katanya. Namun, ceritanya jadi lain saat membicarakan Sekolah Rakyat. Matanya langsung berbinar.

"Makanannya enak. Lebih enak dari rumah. Ada susu, ada buah."

Sekolah ini ia ketahui dari orang tuanya. Saat pertama kali datang, ia langsung terpikat. "Kamarnya lebih bagus dari di rumah. Ada kipas angin." Di rumah, ia harus berbagi kamar dengan adiknya. Sudah lama orang tuanya tak menjenguk, terakhir saat minggu pertama ia bersekolah.

"Kangen sama orang rumah," ucapnya lirih.

Meski begitu, rasa rindu itu sedikit terobati oleh suasana di Sekolah Rakyat. Di sini ia dapat teman-teman yang baik, tempat tidur yang nyaman, dan guru-guru yang sabar. "Teman baik-baik, sering main bola, kadang main layangan juga," ceritanya.

Sebelum mengakhiri percakapan, ia terdiam sejenak. Pandangannya menerawang ke halaman sekolah yang rindang. Lalu, dengan suara pelan penuh rasa syukur, ia menyampaikan terima kasih.

"Terima kasih kepada guru-guru. Bapak dan Ibu wali asuh. Presiden Prabowo juga karena sudah memasukkan saya ke Sekolah Rakyat ini."

Ia lalu meneguk air, menepuk-nepuk celana yang berdebu, dan bilang ingin segera kembali ke kelas.

"Abis ini mau belajar BTQ (Baca Tulis Quran), senang banget sekolah di sini," ujarnya sambil tersenyum lebar. Ia pun berlari kecil menuju ruang belajar, meninggalkan semangat yang terasa hangat di udara siang Ternate.

Albert hanyalah satu dari banyak anak yang mendapat kesempatan kedua. Dari garis hidup yang hampir seluruhnya ditentukan oleh kebun pala, kini ia punya pilihan lain. Sekolah Rakyat, yang diusung sebagai program prioritas, mencoba menjadi jembatan itu. Harapan baru tumbuh, bukan hanya dari rempah-rempah Ternate, tapi juga dari tangan-tangan kecil yang mulai menulis cerita berbeda untuk masa depannya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler