Kisah Ustazah Ila Junia: Perjuangan Daiyah Muda di Pedalaman Morowali

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 13:00 WIB
Kisah Ustazah Ila Junia: Perjuangan Daiyah Muda di Pedalaman Morowali
Kisah Inspiratif Daiyah Muda di Pedalaman Morowali | Dewan Dakwah

Daiyah Muda Dewan Dakwah Menyalakan Cahaya Ilmu di Pedalaman Morowali

Di balik perbukitan hijau dan jalan berbatu Kecamatan Mamosalato, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, dua daiyah muda dengan tekad baja menjalankan misi mulia. Ustazah Ila Junia dan Ustazah Nurul Izzah, dai pengabdian dari Dewan Dakwah, telah setahun penuh membina masyarakat Desa Tanasumpu dan sekitarnya.

Kedatangan mereka pada September 2024 diwarnai dengan tantangan infrastruktur yang berat. Jalan tanah, listrik yang sering padam, jaringan komunikasi yang terputus, dan sumber air terbatas menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, sambutan hangat dan penerimaan dari masyarakat setempat mampu mengusir segala rasa lelah.

"Alhamdulillah, masyarakat sangat menerima, bahkan sering mengundang saya untuk mengisi kajian di rumah mereka," tutur Ustazah Ila.

Memberi Nyawa Baru bagi Pendidikan di SMP IT Al Muhajirin

Kehadiran kedua daiyah ini menjadi napas baru bagi SMP IT Al Muhajirin Dewan Dakwah. Sekolah lanjutan bagi anak-anak pedalaman ini sebelumnya belum memiliki sistem pembinaan yang terstruktur. Bangunan sekolah masih sederhana, sementara asrama putri masih menempati rumah sewa.

Ustazah Ila dengan tekun mengajar Bahasa Indonesia setiap Rabu dan Kamis. Tantangan terbesarnya adalah mengatasi kebiasaan para santri yang masih menggunakan bahasa ibu, Bahasa Tau Ta'a.

"Tujuannya bukan hanya agar mereka paham pelajaran, tapi juga supaya lancar membaca," jelasnya.

Tak hanya kemampuan akademik, Ustazah Ila juga fokus membangun mental keberanian dan kepercayaan diri anak-anak pedalaman yang cenderung pemalu. Prosesnya membutuhkan kesabaran, tetapi hasilnya mulai terlihat. Perlahan-lahan, mereka mulai berani berbicara dan tampil di depan kelas.

TPA yang Berkembang dan Mabit Perdana yang Menggembirakan

Kegiatan dakwah mereka berlanjut di sore hari. Bersama rekannya, Ustazah Ila mengajar di TPA Dewan Dakwah dari Senin hingga Sabtu. Jumlah santri yang awalnya hanya 10 anak, kini telah berkembang pesat menjadi 30 anak. Kini, bacaan salat yang sebelumnya terbata-bata mulai lancar dihafal dan dipraktikkan.

Sebuah program baru, Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa), diperkenalkan dan menjadi pengalaman pertama yang menggembirakan bagi anak-anak. Mereka menginap di masjid, mengikuti lomba hafalan, nobar islami, dan berbagai kegiatan pembinaan akhlak.

"Mereka sangat antusias, bahkan setelah dua hari selesai, anak-anak meminta diadakan lagi," kenang Ustazah Ila.

Perjuangan Dakwah kepada Ibu-ibu di Dusun Poemboto

Dakwah mereka tidak hanya untuk anak-anak. Dua kali seminggu, Ustazah Ila menempuh perjalanan berbahaya selama dua jam dengan motor menuju Dusun Poemboto untuk membina majelis taklim ibu-ibu. Jalan curam, berbatu, dan licin kerap menjatuhkan mereka.

"Kami sering jatuh di jalan, tapi kebahagiaan ibu-ibu yang menanti membuat semua terasa ringan," ujarnya.

Perjuangan itu tidak sia-sia. Perubahan positif mulai tampak. Ibu-ibu yang sebelumnya masih memegang kepercayaan lokal mulai memahami konsep tauhid dan meninggalkan kebiasaan syirik. Kini, mereka bahkan membutuhkan lebih banyak bahan bacaan dan buku dakwah untuk memperdalam akidah.

Dari rumah sewa sederhana di Tanasumpu, Ustazah Ila Junia dan Ustazah Nurul Izzah membuktikan bahwa dakwah yang hakiki adalah tentang membangun dan membentuk peradaban, meski di tengah segala keterbatasan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar