Dibalik Perang Sudan: Perebutan Kekuasaan, Kekayaan, dan Pengaruh Global yang Menghancurkan

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 13:20 WIB
Dibalik Perang Sudan: Perebutan Kekuasaan, Kekayaan, dan Pengaruh Global yang Menghancurkan

Akar Masalah Konflik Sudan: Sejarah, Penyebab, dan Pihak yang Terlibat

Konflik di Sudan bukanlah peristiwa yang muncul tiba-tiba. Ketegangan ini telah memanas sejak tahun 2023, namun akar permasalahannya dapat ditelusuri hingga ke tahun 2019, ketika Presiden Omar al-Bashir digulingkan melalui kudeta militer.

Era Kekuasaan Omar al-Bashir yang Panjang

Omar al-Bashir berkuasa di Sudan selama 30 tahun, dari 1989 hingga 2019. Awalnya, ia naik ke tampuk kekuasaan dengan dukungan Hassan al-Turabi, seorang ulama dan tokoh politik terkemuka. Namun, persekutuan ini tidak bertahan lama dan akhirnya pecah.

Selama tiga dekade, pemerintahan al-Bashir diwarnai oleh berbagai masalah kompleks:

  • Kedekatan dengan Iran dan pemberian perlindungan kepada Osama bin Laden membuat Sudan dicap sebagai "negara sponsor terorisme" oleh Amerika Serikat dan Eropa. Akibatnya, negara ini menghadapi blokade ekonomi, diplomatik, dan politik yang berkepanjangan.
  • Kebijakan Islam yang diterapkan al-Bashir memicu pemberontakan di wilayah selatan, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Setelah puluhan tahun perang saudara, Sudan Selatan akhirnya memisahkan diri dan merdeka pada tahun 2011.

Konflik Darfur dan Kebangkitan Milisi Janjaweed

Salah satu isu paling kelam yang mencoreng nama Sudan di mata internasional adalah konflik Darfur. Meskipun masyarakat Darfur mayoritas Muslim, mereka berasal dari etnis non-Arab, berbeda dengan kelompok yang mendominasi politik di Khartoum.

Sekitar tahun 2003, pemerintah melancarkan operasi militer di Darfur untuk memerangi pemberontak. Namun, alih-alih menggunakan tentara resmi, al-Bashir memanfaatkan milisi Janjaweed yang dipimpin oleh Mohamed Hamdan Dagalo, atau yang lebih dikenal sebagai Hemedti.

Pasukan Janjaweed terkenal karena kebrutalannya. Serangan terhadap desa-desa dan pembunuhan massal menjadi taktik yang umum digunakan untuk mengintimidasi penduduk. Tindakan ini menuai kecaman keras dari Barat, yang menuduh pemerintah Sudan melakukan genosida.

Kudeta 2019 dan Perebutan Kekuasaan

Pada tahun 2019, Omar al-Bashir akhirnya digulingkan oleh angkatan bersenjata Sudan (SAF) yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan. Al-Burhan kemudian mengambil alih kepemimpinan sementara dan menunjuk Hemedti sebagai wakilnya. Di bawah kepemimpinan baru, milisi Janjaweed berganti nama menjadi Pasukan Dukungan Cepat (RSF).

Awalnya, al-Burhan dan Hemedti bekerja sama dengan erat. Namun, persekutuan ini tidak bertahan lama. Keduanya mulai berebut pengaruh dan kekuasaan, yang akhirnya memicu Perang Saudara Sudan pada tahun 2023.

SAF, yang dipimpin al-Burhan, menguasai wilayah timur dan utara Sudan. Sementara itu, RSF di bawah Hemedti mendominasi wilayah barat, termasuk Darfur, yang menjadi basis kekuatan mereka.

Perang Proksi dan Kepentingan Global

Konflik internal Sudan dengan cepat menarik campur tangan pihak asing. Negara-negara Arab mulai memilih sisi, menjadikan Sudan sebagai medan perang proksi baru.

  • Mesir dan Arab Saudi mendukung al-Burhan dan pemerintah.
  • Uni Emirat Arab (UEA) memberikan dukungan kepada Hemedti dan RSF.

Meskipun ketiga negara ini sering terlihat bersekutu dalam isu-isu regional, seperti penentangan terhadap Ikhwanul Muslimin, mereka memiliki kepentingan strategis masing-masing di Sudan.

Peran Israel dan Dinamika Regional

Lapisan konflik semakin kompleks dengan melibatkan pengaruh Israel. Setelah jatuhnya al-Bashir, Israel dengan cepat mengambil langkah untuk menormalisasi hubungan dengan Sudan, menjadikannya negara Arab keempat yang menandatangani Perjanjian Abraham.

Melalui hubungan antara UEA dan RSF, Israel melihat peluang untuk memperluas pengaruhnya di Afrika Timur dan kawasan Laut Merah, terutama di tengah menurunnya ketergantungan pada Amerika Serikat.

Kesimpulan: Konflik yang Melampaui Perebutan Kekuasaan

Konflik Sudan bukan sekadar perang antara dua jenderal. Situasi ini mencerminkan fragmentasi dunia Arab-Islam menjadi blok-blok kekuatan yang saling bersaing. Selama perebutan pengaruh ini belum berakhir, rakyat Sudan akan terus menjadi korban dari ambisi, balas dendam, dan intrik geopolitik yang lebih besar.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar