119 Tewas di Operasi Narkoba Rio: Brutalitas Aparat atau Pembantaian yang Diselimuti Misteri?

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 11:48 WIB
119 Tewas di Operasi Narkoba Rio: Brutalitas Aparat atau Pembantaian yang Diselimuti Misteri?

Operasi Narkoba Rio de Janeiro: 119 Tewas Memicu Gelombang Protes

Operasi perang narkoba di Rio de Janeiro mencatatkan korban tewas mencapai 119 orang. Operasi penargetan geng narkoba ini memicu demonstrasi besar menentang kekerasan aparat.

Protes Masyarakat Favela Menuntut Pengunduran Diri Gubernur

Puluhan warga favela berkumpul di kantor pemerintahan negara bagian, meneriakkan "pembunuh!" sambil mengibarkan bendera Brasil bernoda cat merah. Massa menuntut pengunduran diri Gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro.

Luka Tusuk dan Cacat pada Jenazah Memicu Kontroversi

Muncul laporan mengenai kondisi jenazah yang menunjukkan luka tusuk dan cacat. Mahkamah Agung, jaksa penuntut, dan parlemen menuntut pemerintah memberikan informasi rinci tentang operasi ini.

Kisah Keluarga Korban dan Tuntutan Keadilan

"Ini adalah pembunuhan," ungkap Barbara Barbosa, warga kompleks Penha yang kehilangan putranya dalam operasi sebelumnya. Aktivis Rute Sales menambahkan, "Apakah kami akan dihukum mati? Berhenti membunuh kami."

Operasi Besar-besaran dan Temuan di Hutan

Penggerebekan melibatkan 2.500 polisi dan tentara di favela Penha dan Complexo de Alemao. Sekretaris Polisi Felipe Curi mengungkap jenazah tersangka ditemukan di hutan dengan menggunakan kamuflase saat baku tembak.

Isu Pemalsuan Barang Bukti dan Kondisi Jenazah

Curi menyatakan warga setempat diduga melepas pakaian dan peralatan dari jenazah, yang akan diselidiki sebagai pemalsuan barang bukti. Hal ini menyebabkan perbedaan kondisi jenazah saat ditemukan.

Proses Pengumpulan Jenazah dan Reaksi Masyarakat

Warga mengumpulkan jenazah di truk sebelum diletakkan di alun-alun utama sambil meneriakkan "pembantaian" dan "keadilan". Silva Santos, seorang warga, mempertanyakan, "Mereka bisa saja dibawa ke penjara, kenapa dibunuh?"

Kekhawatiran atas Brutalitas dan Pelanggaran HAM

Aktivis Raull Santiago melaporkan menemukan sekitar 15 jenazah sebelum fajar dengan kondisi mengkhawatirkan. "Kami melihat mereka yang dieksekusi: ditembak di punggung, kepala, luka tusuk, diikat," ujarnya menggambarkan tingkat kebrutalan yang terjadi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar