Idealis vs Realistis: Bisakah Pemerintahan Baru Benar-Benar Berubah?

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 06:40 WIB
Idealis vs Realistis: Bisakah Pemerintahan Baru Benar-Benar Berubah?

Idealis vs. Pesimis: Dinamika Kekuasaan dan Harapan Baru Pemerintahan

Figur idealis seringkali dikaitkan dengan karakter mahasiswa, aktivis, pemikir, pejuang, dan ulama. Intinya, mereka adalah orang-orang yang menginginkan dunia dan sistem berjalan dengan benar. Namun, benarkah seorang idealis sejati justru harus realistis namun bertindak tepat? Inilah pembahasan menarik tentang pertemuan antara idealisme dan realitas politik.

Dunia Politik: Medan Pragmatisme bagi Para Idealis

Politik pada hakikatnya adalah dunia pragmatis, sebuah arena transaksi kepentingan dan kekuasaan dimana kebenaran seringkali menjadi nomor dua. Dalam lingkungan seperti ini, tak heran jika banyak para idealis justru terlempar ke luar lingkar kekuasaan dan lebih sering berperan sebagai kritikus yang tajam.

Ketika Idealis Terjerat Sistem Kekuasaan yang Buruk

Kondisi menjadi lebih rumit ketika sistem kekuasaan itu sendiri buruk, dipimpin oleh figur yang lemah, dan diisi oleh pejabat dengan karakter yang buruk bahkan jahat. Dalam situasi seperti ini, para aktivis yang awalnya idealis sangat rentan mengalami degradasi moral dan prinsip ketika mereka masuk dan terlibat dalam struktur kekuasaan tersebut.

Perubahan Zaman: Ruang bagi Idealis dalam Kekuasaan

Namun, klaim bahwa idealis tidak bisa berkuasa mulai runtuh. Setelah Indonesia mengalami periode panjang kurang lebih 10 tahun dalam cengkeraman orkestra kedunguan dari kekuasaan yang jahat, tampaknya kini pemerintahan mulai diisi oleh para idealis. Mereka bukan lagi sekadar mahasiswa, melainkan pejabat dengan pemikiran yang lurus dan tujuan mulia untuk memajukan negeri.

Tantangan Membersihkan Pemerintahan dan Realitas Politik

Tugas berat masih menanti, terutama dalam membersihkan pemerintahan dari sisa-sisa pejabat warisan rezim sebelumnya. Gerakan perubahan di tingkat negara tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam sistem yang kompleks dengan banyak pemain dan kepentingan, perubahan tidak bisa dilakukan dengan gaya kepemimpinan mahasiswa yang serba instan, seperti mengganti dan memecat seenaknya.

Menjaga Optimisme dan Sikap Kritis yang Konstruktif

Meski pemecatan terhadap pejabat bermasalah tetap harus dilakukan, sebagai rakyat, kita perlu bersabar. Yang terpenting, pemerintah sudah berada di jalur yang benar atau on the right track. Kabar tentang reshuffle kabinet dengan calon-calon yang diharapkan rakyat pun menjadi angin segar yang dinantikan.

Di tengah semua ini, sikap optimis sembari tetap kritis adalah kunci. Bukan pesimisme atau apatisme yang dibutuhkan, melainkan kritik yang membangun. Sikap ini tidak hanya bermanfaat bagi negara, tapi juga diharapkan menjadi amal baik yang berpahala.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar