Ismail Fahmi Kritik Fotografer CFD: Rasanya Intimidating dan Creepy
Founder Drone Emprite, Ismail Fahmi, mengungkapkan pengalaman tidak nyamannya saat berlari di area Palembang Icon Mall. Ia merasa risih dan terintimidasi karena terus-menerus dipotret oleh puluhan fotografer tanpa izin.
Fotografer di CFD Palembang seperti Intimidating
"Minggu lalu saya keliling di Palembang, fotografer itu banyak sekali. Itu seperti intimidating," kata Ismail dalam keterangannya, Selasa (28/10). Awalnya ia menganggap wajar karena mungkin dikenali publik melalui media sosial X. Namun rasa tidak nyaman muncul ketika jumlah fotografer yang memotretnya dinilai sudah tidak wajar.
Wajah Tersebar di Aplikasi Jual Beli Foto
"Awalnya saya merasa foto aja silakan, tapi kok lama-lama wajah saya di mana-mana. Ini gila banget, sampai 15 meter itu ada lagi. Mungkin ini praktik biasa tapi menurut saya berlebihan," keluhnya. Ismail menambahkan, para fotografer memanfaatkan aplikasi jual beli foto yang dilengkapi teknologi pengenalan wajah. "Dulu kan kita lari harus menghubungi di Instagram, kan repot. Sekarang cukup dengan aplikasi langsung ketahuan. Saya lihat foto saya banyak sekali di sana."
Istrinya Juga Difoto dari Belakang, Rasanya Creepy
Pengalaman serupa dialami ketika mengajak istrinya lari bersama. "Saya juga minta istri saya lari dulu, difoto dari belakang. Kayak artis difoto jebret-jebret, ini creepy (menyeramkan)," tuturnya.
Ismail Fahmi Ajak Publik Diskusi Etika Fotografi di CFD
Ismail sengaja memposting isu ini di X untuk mengajak diskusi publik seputar fotografi, ekonomi, dan etika. Menurutnya, hingga saat ini belum ada aturan jelas yang mengatur praktik yang semakin marak tersebut.
Banyak Pelari yang Merasa Risih
"Bukan kota besar saja, kabupaten kecil juga gitu. Banyak orang yang risih ke CFD, harus pakai masker, gak nyaman," ujarnya. Ia membandingkan dengan praktik di luar negeri yang lebih menghargai privasi. "Di luar negeri gak ada gitu, di Indonesia selalu ada privasi gak ada."
Potensi Penyalahgunaan Foto
Ismail juga mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan foto. "Ada orang niat jahat pakai foto seksi-seksi kita gak tahu niat mereka. Pura-pura fotografer, ini ada something wrong."
Perlu Aturan Clear untuk Fotografer CFD
Meski memahami fenomena ini menjadi ladang ekonomi bagi fotografer, Ismail menekankan pentingnya aturan yang jelas. "Mungkin perlu ada tempat khusus, seperti wartawan kalau motret. Atau dari sisi yang difoto ngasih tahu atau tanda kalau gak mau difoto."
Peran Pemerintah dan Organisasi
Ia menyarankan perlu diskusi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat maupun daerah. "Ini aspeknya luas, harus ada pembahasan bersama sehingga mewakili fotografer, runner, ini ruang publik. Kalau nasional di Kominfo, implementasi AI dan etika perlu diharmoniskan."
Artikel Terkait
Bupati Bone Terobos Banjir di Watampone, Borong Kue Pedagang untuk Korban
Banjir Rendam Sejumlah Wilayah Bone, Pemkab Tetapkan Status Siaga Satu
Rayo Vallecano Pastikan Tiket Final UEFA Conference League 2026 Usai Kalahkan Strasbourg
João Félix Cetak Hattrick, Al Nassr Kalahkan Al Shabab 4-2