Upaya Polri Melawan Paham Radikal
Sebagai langkah antisipasi dan pencegahan, Polri kini rutin menggelar kegiatan keagamaan melalui platform Zoom setiap hari Kamis. Anwar menekankan pentingnya memanfaatkan media sosial untuk melawan penyebaran paham radikal.
"Mereka bisa mencuci otak dengan medsos, maka kita juga gunakan medsos untuk mencuci otak anggota kita yang benar. Untuk mengimbangi," jelasnya.
LGBT: Tantangan Deteksi Dini di Polri
Selain masalah radikalisme, AsSDM Kapolri juga menyoroti persoalan LGBT yang menjangkiti anggota Polri. Anwar mengakui bahwa hingga saat ini, institusi masih mengalami kesulitan dalam mendeteksi anggota yang terpapar LGBT. Dia bahkan menyatakan sedang mencari alat atau teknologi yang dapat membantu mendeteksi hal tersebut, mengingat deteksi melalui jejak digital pun masih sulit dilakukan.
"Saya masih mencari, di mana sih alat untuk bisa mendeteksi itu. Rupanya kita belum punya. Mungkin nanti kita mencari ke situ (teknologi)," jelas Anwar.
Selama ini, anggota yang terpapar LGBT biasanya baru terdeteksi ketika sudah muncul masalah dan dikenai sanksi. "Polisi sekarang tidak mentoleran hal seperti itu. Akhirnya begitu terjadi, ketahuan ya sudah diproses, lalu PTDH. Tapi tidak ada alat yang untuk mendeteksi, anak ini akan terpapar. Baik itu intoleransi, radikal, maupun yang lain sebagainya," pungkasnya.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral