Saat Sejarah Mencari Aktor Baru: Mahasiswa di Persimpangan Peran

- Minggu, 28 Juni 2026 | 09:00 WIB
Saat Sejarah Mencari Aktor Baru: Mahasiswa di Persimpangan Peran

Selama lebih dari satu abad, keyakinan bahwa mahasiswa adalah garda terdepan perubahan sosial di Indonesia nyaris menjadi dogma. Dari Sumpah Pemuda 1928 hingga Reformasi 1998, selalu ada generasi muda yang tampil melampaui zamannya. Namun, pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi apakah mahasiswa pernah menjadi agen perubahan, melainkan apakah mereka masih menjadi kelompok yang paling siap menjawab kegelisahan Indonesia hari ini.

Keyakinan itu lahir dari ingatan kolektif bangsa. Mahasiswa menjadi aktor pada 1966 dan 1998 karena mereka memiliki tiga keunggulan sekaligus: kemampuan membaca kegelisahan masyarakat, keberanian moral untuk menyuarakannya, dan kebebasan yang cukup untuk bertindak tanpa dibebani kepentingan pribadi. Namun sejarah tidak pernah menjamin syarat-syarat itu akan selamanya berada di dalam kampus.

Perubahan besar justru terjadi pada cara kekuasaan mempertahankan dirinya. Jika dulu kritik dihadapi dengan represi, kini hubungan antara negara dan gerakan mahasiswa berkembang lebih rumit. Kekuasaan modern memahami bahwa tidak semua lawan harus dibungkam; sebagian lebih mudah dikelola ketika diajak berdialog, diberi ruang, atau dirangkul melalui jejaring yang tampak tidak bermasalah.

Persoalan muncul ketika kedekatan perlahan mengikis jarak kritis. Kritik tidak lagi hilang karena dilarang, tetapi karena kehilangan dorongan moral untuk tetap berdiri di luar lingkaran kekuasaan. Represi melahirkan perlawanan, tetapi kooptasi lebih sering melahirkan kompromi. Ukuran kekuatan gerakan mahasiswa tidak pernah ditentukan oleh seberapa keras mereka berteriak di jalanan, melainkan oleh seberapa merdeka mereka menjaga jarak dari siapa pun yang sedang memegang kekuasaan.

Di luar kampus, lahir generasi muda yang paling terdidik sepanjang sejarah republik ini. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah, akses terhadap pengetahuan semakin terbuka. Namun mereka tumbuh dengan kegelisahan: pendidikan saja tidak lagi cukup. Mereka melihat keberhasilan tidak selalu mengikuti kemampuan, hubungan kadang lebih berharga daripada prestasi, dan akses ke pusat kekuasaan sering kali lebih menentukan daripada kapasitas.

Persepsi yang terus berulang ini memiliki daya dorong yang sama kuatnya dengan kenyataan. Sejarah jarang digerakkan oleh kelompok yang paling miskin, melainkan oleh mereka yang memiliki harapan besar tetapi mulai kehilangan kepercayaan bahwa sistem masih memberi ruang bagi harapan itu. Kelompok inilah yang perlahan membentuk wajah baru Indonesia belum memiliki organisasi atau pemimpin, tetapi berbagi kegelisahan yang sama.

Sejarah tidak pernah meninggalkan ruang kosong. Ketika satu kelompok sosial kehilangan kemampuannya menangkap kegelisahan masyarakat, sejarah hampir selalu melahirkan kelompok lain untuk mengisi peran itu. Mahasiswa kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa kampus masih merupakan ruang paling merdeka dalam demokrasi Indonesia, bahwa keberanian intelektual tidak dapat ditukar dengan akses atau kenyamanan sesaat.

Sejarah tidak memilih berdasarkan romantisme masa lalu, melainkan berdasarkan kemampuan menjawab tantangan zaman. Mungkin sejarah akan kembali mengetuk pintu kampus, tetapi sejarah tidak pernah menunggu terlalu lama. Jika mahasiswa tetap menjaga keberanian berpikir dan keberpihakan kepada kepentingan publik, mereka akan kembali menjadi pelopor perubahan. Namun jika ruang itu perlahan digantikan oleh kompromi, sejarah akan mencari aktor baru. Dan ketika hari itu tiba, mahasiswa tidak kehilangan warisan sejarahnya mereka hanya kehilangan kesempatan untuk menulis bab berikutnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags