Imposter Syndrome di Kalangan Mahasiswa: Ketika Kemampuan Tak Sejalan dengan Rasa Percaya Diri

- Senin, 20 Juli 2026 | 02:06 WIB
Imposter Syndrome di Kalangan Mahasiswa: Ketika Kemampuan Tak Sejalan dengan Rasa Percaya Diri

Banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki kemampuan akademik baik, namun justru merasa tidak layak atas pencapaiannya. Mereka sering menolak kesempatan tampil di depan kelas dengan alasan belum cukup pintar, meski secara objektif nilai dan pemahaman mereka tergolong unggul.

Fenomena ini dikenal sebagai imposter syndrome, yaitu kondisi psikologis ketika seseorang merasa dirinya tidak pantas atas keberhasilan yang diraih. Keberhasilan dianggap hanya karena keberuntungan, bukan hasil kerja keras. Akibatnya, mereka lebih fokus pada kekurangan daripada pencapaian.

Salah satu pemicunya adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama di era media sosial. Mahasiswa lebih sering melihat keberhasilan orang lain tanpa melihat proses perjuangannya, sehingga muncul perasaan tertinggal. Padahal, setiap orang memiliki waktu dan perjalanan yang berbeda.

Tekanan lingkungan akademik juga berperan. Tuntutan untuk selalu mendapat nilai tinggi, aktif berorganisasi, mengikuti lomba, dan meraih banyak prestasi membuat sebagian mahasiswa merasa harus sempurna. Satu kesalahan saja sudah cukup untuk meragukan kemampuan diri sendiri.

Padahal, rasa percaya diri bukan berarti merasa paling hebat. Percaya diri adalah kemampuan mengakui kekurangan, tetapi tetap yakin mampu terus belajar dan berkembang. Daripada membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik membandingkan diri dengan versi kita di masa lalu. Apakah kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin? Jika iya, berarti kita sedang bertumbuh.

Setiap mahasiswa memiliki potensi berbeda. Tidak semua orang harus menjadi yang terbaik di kelas untuk sukses. Yang lebih penting adalah terus belajar, berani mencoba, dan tidak takut gagal. Karena pada akhirnya, yang sering menghambat bukanlah kurangnya kemampuan, melainkan kurangnya kepercayaan terhadap diri sendiri.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags