Selama lebih dari satu abad, bangsa Indonesia meyakini bahwa mahasiswa adalah aktor utama di setiap persimpangan sejarah. Keyakinan itu bukan tanpa dasar: dari Sumpah Pemuda 1928, desakan menjelang Proklamasi 1945, hingga gerakan 1966 dan Reformasi 1998, mahasiswa selalu tampil di garis depan. Namun, pertanyaan yang kini perlu diajukan bukanlah apakah mahasiswa pernah menjadi agen perubahan, melainkan apakah mereka masih menjadi kelompok yang paling siap menjawab kegelisahan Indonesia hari ini.
Sejarah tidak pernah setia kepada aktor yang sama. Ia tidak mengenal hak istimewa. Setiap generasi harus membuktikan kembali bahwa mereka layak memikul tanggung jawab tersebut. Jika pada masa lalu ancaman terhadap gerakan mahasiswa datang dari luar dalam bentuk represi kini ancaman itu justru bisa datang dari dalam: godaan untuk merasa cukup dekat dengan kekuasaan sehingga fungsi pengawasan tidak lagi dijalankan dengan keberanian yang sama.
Kekuasaan modern memahami bahwa tidak semua lawan harus dibungkam. Sebagian lebih mudah dikelola ketika diajak berbicara, diberi ruang, dilibatkan dalam forum, atau dirangkul melalui jejaring yang tampak tidak bermasalah. Dialog memang bukan sesuatu yang keliru, tetapi persoalan muncul ketika kedekatan perlahan mengikis jarak kritis. Kritik tidak lagi hilang karena dilarang, tetapi karena kehilangan dorongan moral untuk tetap berdiri di luar lingkaran kekuasaan.
Di sinilah perubahan besar yang sering luput dari perhatian. Represi melahirkan perlawanan, tetapi kooptasi lebih sering melahirkan kompromi. Ukuran kekuatan gerakan mahasiswa tidak pernah ditentukan oleh seberapa keras mereka berteriak di jalanan, melainkan oleh seberapa merdeka mereka menjaga jarak dari siapa pun yang sedang memegang kekuasaan. Demokrasi membutuhkan mahasiswa bukan sebagai kelompok yang selalu menolak pemerintah, tetapi sebagai kelompok yang mampu mengatakan "tidak" ketika kepentingan publik dikorbankan.
Sejarah Indonesia tidak pernah memilih mahasiswa semata-mata karena status mereka. Yang dipilih sejarah adalah kelompok sosial yang memiliki tiga keunggulan sekaligus: kemampuan membaca kegelisahan masyarakat, keberanian moral untuk menyuarakannya, dan kebebasan yang cukup untuk bertindak tanpa terlalu dibebani kepentingan pribadi. Mahasiswa memenuhi syarat itu pada 1966 dan 1998, tetapi sejarah tidak pernah menjamin bahwa syarat-syarat tersebut akan selamanya berada di dalam kampus.
Kita terlalu sering mengingat siapa pelakunya, tetapi lupa mengapa mereka dipilih oleh zamannya. Mahasiswa bukan aktor perubahan karena status kemahasiswaannya. Mereka menjadi aktor perubahan karena pada suatu masa merekalah kelompok yang paling mampu menangkap kegelisahan masyarakat dan menerjemahkannya menjadi keberanian politik. Pada awal abad ke-20, aktor perubahan adalah kaum terpelajar bumiputra. Dua puluh tahun kemudian, estafet berpindah kepada kaum muda yang melahirkan Sumpah Pemuda. Menjelang Proklamasi, kelompok muda mendesak agar kemerdekaan tidak ditunda. Pada 1966 dan 1998, giliran mahasiswa mengambil estafet itu.
Perhatikan polanya: aktor sejarah selalu berubah, tetapi alasan mengapa mereka dipilih hampir selalu sama. Mereka adalah kelompok yang paling cepat membaca perubahan zaman. Kesadaran inilah yang sering hilang dari diskusi kita. Kita lebih sibuk mewariskan simbol daripada memahami syarat-syarat yang membuat simbol itu lahir.
Paradoks Generasi Terdidik
Indonesia hari ini melahirkan generasi muda yang jauh lebih terdidik dibandingkan generasi mana pun sebelumnya. Jumlah lulusan perguruan tinggi meningkat, akses terhadap teknologi semakin terbuka, dan informasi mengalir tanpa batas. Namun, mereka juga menghadapi paradoks yang tidak dialami generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju mobilitas sosial, tetapi realitas tidak selalu bergerak searah dengan harapan itu. Semakin sering mereka menyaksikan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kemampuan. Kedekatan dengan pusat-pusat kekuasaan, jejaring sosial, hubungan keluarga dalam banyak kasus dipersepsikan memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap peluang seseorang.
Persepsi sosial terbentuk bukan hanya oleh fakta-fakta ideal, melainkan juga oleh pengalaman yang terus berulang di ruang publik. Akibatnya, lahirlah kegelisahan yang perlahan menjadi pengalaman bersama: bukan kegelisahan karena tidak memiliki pendidikan, melainkan karena merasa pendidikan saja tidak lagi cukup. Di sinilah sejarah biasanya mulai menulis babak baru. Tidak ada pelaku sejarah yang pernah mengetahui bahwa dirinya sedang membuat sejarah; mereka baru menyadarinya ketika semuanya telah berlalu.
Para pemuda yang berkumpul pada Oktober 1928 tidak sedang berpikir bahwa sumpah mereka kelak dihafalkan jutaan anak sekolah. Mahasiswa yang memenuhi jalan-jalan Jakarta pada Mei 1998 juga tidak pernah membayangkan bahwa foto-foto mereka akan menjadi bagian dari buku sejarah. Mereka hanya menjawab kegelisahan yang mereka rasakan pada zamannya.
Sejarah hampir tidak pernah memilih kelompok tertentu karena nama atau identitasnya. Ia memilih mereka yang paling peka terhadap perubahan, paling berani mengambil risiko, dan paling mampu menerjemahkan kegelisahan masyarakat menjadi tindakan bersama. Karena itulah aktornya selalu berganti: kaum terpelajar, kaum muda, mahasiswa. Tidak satu pun di antara mereka memperoleh hak untuk memilikinya selama-lamanya.
Benih Perubahan di Luar Kampus
Saat ini, di luar kampus tumbuh generasi muda yang menikmati pendidikan lebih tinggi daripada orang tuanya. Mereka fasih menggunakan teknologi, terbuka terhadap dunia, dan dibesarkan dengan keyakinan bahwa kerja keras akan membawa kehidupan yang lebih baik. Namun, semakin banyak di antara mereka yang mulai mempertanyakan keyakinan itu. Bukan karena mereka malas bekerja, melainkan karena mereka merasa kompetensi tidak selalu memperoleh penghargaan yang semestinya. Mobilitas sosial semakin sulit, sementara kedekatan dengan pusat-pusat kekuasaan sering kali dipersepsikan lebih menentukan daripada kemampuan.
Benar atau salahnya persepsi itu bukan pokok persoalannya. Dalam politik, persepsi yang terus berulang sering kali memiliki daya dorong yang sama kuatnya dengan kenyataan. Di sinilah benih-benih perubahan biasanya tumbuh. Sejarah jarang digerakkan oleh kelompok yang paling miskin. Ia lebih sering digerakkan oleh mereka yang memiliki harapan besar, tetapi mulai kehilangan kepercayaan bahwa sistem masih memberi ruang bagi harapan itu untuk menjadi kenyataan.
Kelompok ini perlahan membentuk wajah baru Indonesia. Mereka belum memiliki organisasi, belum memiliki pemimpin, bahkan mungkin belum menyadari bahwa mereka berbagi kegelisahan yang sama. Tetapi demikian pula dengan para pelaku sejarah pada masa lalu. Mereka tidak pernah memulai dengan kesadaran bahwa mereka sedang menulis sejarah. Mereka hanya merasakan bahwa keadaan tidak lagi dapat dipertahankan.
Terlalu dini untuk mengatakan bahwa kelompok ini akan menjadi pelopor perubahan berikutnya. Tetapi sama kelirunya jika kita mengabaikan gejala yang sedang tumbuh di depan mata. Pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah tahun 2028 akan menjadi titik balik sejarah Indonesia. Tidak seorang pun mampu menjawabnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah syarat-syarat yang dahulu melahirkan perubahan mulai muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Jika jawabannya "ya", maka mahasiswa menghadapi tantangan yang tidak ringan. Bukan tantangan melawan pemerintah, bukan pula tantangan melawan kelompok lain, melainkan tantangan untuk membuktikan bahwa kampus masih merupakan ruang paling merdeka dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Bahwa mahasiswa masih mampu menjaga independensi moralnya ketika kekuasaan semakin piawai membangun kedekatan bahwa keberanian intelektual tidak dapat ditukar dengan akses, fasilitas, atau kenyamanan sesaat.
Sebab sejarah tidak memilih berdasarkan romantisme masa lalu. Ia memilih berdasarkan kemampuan menjawab tantangan zamannya. Mungkin sejarah akan kembali mengetuk pintu kampus, tetapi sejarah tidak pernah menunggu terlalu lama. Jika mahasiswa tetap menjaga keberanian berpikir, kemerdekaan moral, dan keberpihakan kepada kepentingan publik, mereka akan kembali menjadi pelopor perubahan sebagaimana generasi-generasi sebelumnya. Namun jika ruang itu perlahan digantikan oleh kompromi dan kenyamanan, sejarah akan melakukan apa yang selalu dilakukannya sepanjang perjalanan republik ini: mencari aktor baru. Dan ketika hari itu tiba, mahasiswa tidak kehilangan warisan sejarahnya, mereka hanya kehilangan kesempatan untuk menulis bab berikutnya.
Artikel Terkait
Mobil Pengacara Dirusak saat Dampingi Sidang Cerai di Grobogan, Diduga Disiram Cairan Kimia
Gol Kontroversial Iran Dianulir VAR, Kritik Mengalir dari Ibrahimovic hingga Henry
Saat Sejarah Mencari Aktor Baru: Apakah Mahasiswa Masih Layak Memegang Estafet Perubahan?
Dishub DKI Tertibkan Parkir Liar di Kebayoran Baru, Empat Mobil Kena Sanksi