Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran pada Jumat sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal kargo komersial di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Operasi yang dikonfirmasi oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) itu menyasar fasilitas penyimpanan rudal, markas drone, dan situs radar pesisir milik Iran. Langkah ini menandai eskalasi baru di tengah gencatan senjata rapuh yang telah disepakati kedua negara melalui nota kesepahaman pada 17 Juni lalu.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyebut serangan balasan itu sebagai "tanggapan yang kuat" terhadap agresi Iran. "Pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pantai," demikian bunyi pernyataan tersebut. CENTCOM juga menekankan bahwa perilaku Iran merusak kebebasan navigasi di jalur perdagangan internasional yang vital. Serangan dilaporkan terjadi di dekat pelabuhan Sirik, Iran selatan.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal komersial terdaftar Singapura, M/V Ever Lovely, merupakan "pelanggaran bodoh" terhadap nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni. Memorandum itu menyerukan penghentian permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, yang secara efektif menghentikan sementara perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Dokumen itu dirancang sebagai pendahuluan untuk negosiasi lebih lanjut, termasuk soal lalu lintas melalui Selat Hormuz. Sejak awal perang, Iran telah menutup lalu lintas melalui selat tersebut, memicu lonjakan harga bahan bakar, pupuk, dan barang-barang lainnya. Memorandum tersebut dimaksudkan untuk memicu periode 60 hari di mana Iran ditugaskan melakukan "upaya terbaik" untuk memungkinkan kapal komersial melintas tanpa biaya.
Namun gencatan senjata yang rapuh itu sulit dipertahankan. Israel terus membombardir Lebanon, melanggar ketentuan memorandum. Sebagai respons, Iran pekan lalu mengatakan akan kembali menutup Selat Hormuz akibat serangan di Lebanon.
Pada Kamis, kapal Ever Lovely sedang melintasi jalur air tersebut di dekat pantai Oman ketika terkena proyektil. Tidak ada awak kapal yang terluka, dan kapal kontainer itu dapat melanjutkan perjalanan. Trump menyalahkan Iran, mengatakan negara itu "menembakkan setidaknya empat pesawat tanpa awak (drone) yang menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz". Ia mengklaim telah menembak jatuh tiga drone, tetapi satu lainnya mengenai sasaran. "Salah satu drone mengenai dek atas kapal pengangkut kargo yang besar dan sangat mahal," tulis Trump tentang Ever Lovely dalam unggahan media sosialnya pada Jumat.
Dalam konferensi pers, wartawan bertanya kepada Trump apakah gencatan senjata yang ditandatangani dalam memorandum 17 Juni masih berlaku. "Saya tidak suka fakta bahwa mereka menembak kemarin," katanya, sebelum kemudian menjelaskan secara singkat kerusakan pada Ever Lovely. "Kapal itu mendapat sedikit pukulan. Mereka seharusnya tidak melakukan itu. Jadi, Anda akan segera mengetahuinya."
Dalam pernyataan Jumat, CENTCOM mengonfirmasi bahwa pemerintahan Trump memandang serangan terhadap Ever Lovely melanggar memorandum tersebut. "Agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata," tulis CENTCOM. Militer AS berjanji untuk "terus menyediakan jalur aman" bagi semua kapal komersial di selat tersebut, dan menyerukan kepada semua pihak untuk mematuhi memorandum.
Koresponden Al Jazeera, Kimberly Halkett, menilai serangan Jumat kemungkinan akan dipandang sebagai tindakan pencegahan oleh Gedung Putih. Namun, ia mencatat bahwa respons AS sejauh ini tampak lebih terkendali dibandingkan serangan-serangan sebelumnya. "Tidak diragukan lagi bahwa tindakan Amerika Serikat yang terukur menunjukkan bahwa AS membedakan antara serangan Iran terhadap kapal dagang dan serangan terhadap kapal perang AS," kata Halkett. "Namun, tentu ada kekhawatiran di Washington akan risiko eskalasi sebagai akibat dari hal ini."
Alan Eyre, mantan diplomat senior AS, mengatakan bahwa serangan Jumat menggarisbawahi betapa rapuhnya gencatan senjata saat ini dan betapa longgarnya nota kesepahaman tersebut. "MOU itu adalah dokumen satu setengah halaman di mana ambiguitas adalah ciri khasnya, bukan kekurangannya," jelasnya. "Ada banyak ambiguitas yang perlu diisi kemudian."
Artikel Terkait
Pengamat Kritik Penunjukan Mensesneg sebagai Ketua Satgas PHK: Terlambat, 88.000 Pekerja Sudah Kena PHK dalam Setahun
Kelangkaan BBM Lumpuhkan Bangkalan, Puluhan SPBU Tutup dan Antrean Mengular hingga Berjam-jam
Kemenangan Kandidat Progresif di New York Tandai Bangkitnya Pengaruh Muslim dan Arab Amerika dalam Politik AS
Prabowo Akui Empat Kali Kalah Pilpres, Teken Tak Pernah Ganggu Pemimpin yang Menang