“Masa kita harus ganti nama Prabowo jadi ‘Fulan’? Kritik ini harus sampai, dan Prabowo harus dengar. Bahwa posisinya sekarang beda dengan ketika ia hanya melihat Indonesia dari luar. Itu yang perlu disuarakan, dan saya yakin ini benar,” tegas Islah.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa banyak teori demokrasi yang menunjukkan Indonesia sedang mengalami kemunduran. Dari soal penegakan hukum sampai mekanisme check and balance. Hal-hal seperti ini, katanya, tak boleh didiamkan saja.
Islah sendiri mengaku tak terlalu ambil pusing dengan kelompok-kelompok yang merasa paling menang, anti kritik, dan gemar menyerangnya. Termasuk yang melabelinya sebagai “kelompok sakit hati” karena kalah di Pilpres 2024.
“Banyak yang tahu saya dulu mendukung Pak Mahfud. Tapi, pertama kali Prabowo dilantik, saya pernah di podcast Andini Efendi dan juga menulis di media online. Saya bilang kita harus dukung. Prabowo harus didukung karena ini keputusan kolektif hasil pemilu,” jelasnya.
Sebagai pembaca “Paradoks Indonesia”, Islah sebenarnya ingin tetap optimis. Tapi kenyataan hari ini, menurutnya, justru menjadi anomali dari isi buku tersebut.
Itulah yang membuat berbagai tudingan seperti barisan sakit hati atau pihak kalah terasa tak bermakna baginya. Ia malah meyakini, banyak pendukung Prabowo yang sebenarnya juga kecewa.
“Saya kira yang mendukung Pak Prabowo pun banyak yang sakit hati. Kecuali mungkin mereka yang punya ‘dapur MBG’, itu kelas sosial baru yang diciptakan dalam sebuah sistem totaliter,” pungkas Islah.
Artikel Terkait
Kasus Korupsi CCTV Rp2 Miliar di Makassar Mandek, Kejaksaan Dinilai Lamban
Berkas Kasus Penyiraman Andrie Yunus Dinyatakan Lengkap, Segara Dilimpahkan ke Pengadilan Militer
Islah Bahrawi Ungkap Mahfud MD sebagai Inspirasi Keberaniannya Kritik Prabowo
Stok Beras Pemerintah Capai Rekor Tertinggi 4,72 Juta Ton