Sementara di puncak, klub-klub seperti Persib, Borneo FC, dan Persija saling sikut memperebutkan gelar juara. Dua dunia yang sangat berbeda.
Syamsuddin melihat, sisa delapan pertandingan musim ini masih memberi peluang. Beberapa lawan PSM, sebut saja Persik, Arema, dan Madura United, juga sedang dalam kondisi tidak jauh lebih baik. "Pemain dan pelatih harus usaha sekuat tenaga raih poin," tambahnya.
Menurut analisanya, masalah PSM juga dipicu oleh dinamika internal. Pergantian pelatih dari Bernardo Tavares ke Tomas Trucha di Oktober tahun lalu ikut menambah sengkarut. Jika berhasil selamat musim ini, dia menilai manajemen dan pelatih harus serius membenahi tim agar lebih tangguh.
Pengalaman pahitnya dulu menjadi pelajaran. Saat PSM kalah di final perserikatan melawan Persib Bandung tahun 1994, rumahnya malah diteror orang tak dikenal. Cibiran dari rekan dan tetangga pun tak terhindarkan.
Dia membayangkan, degradasi akan membawa dampak yang jauh lebih buruk. "Itu akan jadi sejarah kelam. Tidak hanya untuk pemain, tapi juga dirasakan suporter, warga Makassar dan Sulsel. Akan diingat selalu," ujar mantan asisten pelatih timnas Indonesia ini.
"Klub dan orang-orang di dalamnya bisa terkena sanksi sosial dari masyarakat."
Tekanannya nyata. Dan waktu untuk berbenah hampir habis.
Artikel Terkait
Unhas dan KLHK Jalin Kerja Sama Hadapi Perubahan Iklim
Amnesty International: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Berpola dan Terencana
PSIM Yogyakarta Hadapi PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Susunan Pemain Kedua Tim Diumumkan
Menteri Keuangan Tolak Proyeksi Bank Dunia, Sebut Pertumbuhan RI 2026 Bisa Tembus 5%