Kabupaten Jember, Jawa Timur, belakangan ini dihadapkan pada situasi yang pelik. Para perajin tempe rumahan, tulang punggung industri kecil di wilayah ini, mulai merasakan tekanan hebat. Pemicunya adalah harga kedelai impor yang terus meroket, sebuah efek domino dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Untuk bertahan, mereka terpaksa melakukan berbagai efisiensi ketat, mulai dari memangkas produksi hingga mengurangi jumlah karyawan.
Di tengah situasi sulit ini, ada sosok Maryono yang merasakannya langsung. Pria pemilik rumah produksi tempe di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates ini sudah berkecimpung lebih dari dua dekade. Namun, menurutnya, tekanan beban produksi yang sekarang ia alami termasuk yang terberat.
“Dulu produksi bisa mencapai 1,8 kuintal per hari, tapi sekarang hanya sanggup 1 kuintal saja per hari,”
keluhnya saat ditemui di tempat usahanya, Rabu lalu. Penurunan hampir setengah dari kapasitas normal itu benar-benar langkah pahit. Bayangkan, harga kedelai yang dulu berkisar Rp8.000 per kilogram kini melonjak ke angka Rp10.000. Imbasnya langsung terasa.
Tak cuma soal bahan baku, pendapatan yang menipis memaksanya mengurangi jumlah tenaga kerja. Pilihan-pilihan sulit demi menjaga agar usahanya tetap bernapas.
Namun begitu, ada satu hal yang menarik. Meski biaya operasional membumbung, para perajin di kawasan Tegal Besar ini sepakat untuk tidak menaikkan harga jual tempe. Harganya tetap bertengger di Rp5.000 per biji. Mereka takut kehilangan pelanggan setia jika harganya dinaikkan begitu saja.
Lalu bagaimana cara mereka bertahan? Strateginya adalah dengan menyesuaikan takaran. Ukuran tempe sedikit dikurangi, sehingga margin keuntungan yang didapat meski tipis masih bisa menyelamatkan usaha. Sebuah kompromi yang terpaksa dilakukan antara mempertahankan harga di tingkat konsumen dan menjaga kelangsungan hidup bisnis skala rumahan.
Jadi, meski tempe di pasaran masih terlihat sama dan harganya tak berubah, di balik layar, para perajin seperti Maryono sedang berjuang keras menahan beban. Mereka berharap gejolak harga ini segera mereda, sebelum pilihan yang tersisa semakin menyempit.
Artikel Terkait
BMKG: Waspada Hujan Sedang Disertai Petir dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Sulsel
Hat-trick Harry Kane Bawa Bayern Munich Juara DFB Pokal, Selesaikan Double Winner Musim 2025/2026
Barcelona Hancurkan Lyon 4-0, Raih Gelar Keempat Liga Champions Wanita dalam Enam Musim
PSM Makassar Amankan Tempat di Liga 1 Musim Depan Meski Kalah di Laga Pamungkas