Laba SUNI Turun 7% pada 2025, Tapi Masih Lampaui Target Revisi

- Kamis, 02 April 2026 | 04:20 WIB
Laba SUNI Turun 7% pada 2025, Tapi Masih Lampaui Target Revisi

Laba PT Sunindo Pratama (SUNI) pada 2025 tercatat Rp192 miliar. Angka itu turun 7% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini, menurut laporan perseroan, tak lepas dari merosotnya pendapatan usaha.

Meski begitu, ada sisi positif yang patut dicatat. Capaian laba bersih itu ternyata melampaui target revisi perusahaan, yakni sebesar 112%. Artinya, dalam dua tahun terakhir, SUNI masih bisa mempertahankan level keuntungan yang cukup substansial. Kinerjanya dinilai tetap solid.

Lalu, bagaimana dengan pendapatannya? Di tahun yang sama, SUNI membukukan pendapatan usaha sebesar Rp982 miliar. Jumlah ini mengalami penyusutan sekitar 6% year-on-year (YoY).

Rupanya, penurunan itu terutama dipicu oleh menurunnya volume penjualan OCTG casing. Di sisi lain, penjualan untuk produk OCTG tubing justru menunjukkan tren peningkatan dibanding periode sebelumnya.

Direktur Utama SUNI, Willy Johan Chandra, menegaskan bahwa perseroan masih berada di jalur yang tepat. "Perseroan masih dalam jalur pertumbuhan yang diharapkan dan masih dalam pencapaian level laba yang cukup solid," ujarnya.

Menurut Willy, rata-rata penjualan dan laba beberapa tahun belakangan masih tergolong baik dan sesuai rencana strategis. Laba signifikan dalam dua tahun terakhir ini menjadi modal penting. Ia menyebut, dana itu akan mendukung pembiayaan pembangunan pabrik kedua RTM sekaligus kemampuan perusahaan untuk membagikan dividen.

"Saat ini perseroan masih memprioritaskan peningkatan kapasitas produksi internal melalui anak perusahaannya, PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM). Fasilitas pabrik ke-2 RTM ditargetkan mulai beroperasi pada semester ke-2 di 2026," jelas Willy dalam pernyataan resmi, Rabu (1/4/2026).

Secara fisik, pembangunan pabrik baru itu dikatakan hampir tuntas. Progres konstruksi sepanjang 2025 berjalan sesuai rencana, termasuk pemasangan mesin dan peralatan. Perseroan juga sedang mengurus sertifikasi API untuk fasilitas tersebut.

"Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi ini, diharapkan kinerja operasional dan finansial perseroan ke depan akan semakin optimal serta mampu memastikan ketersediaan OCTG tubing di tingkat nasional,” tambah Willy.

Sementara itu, dari sisi operasional, Direktur Operasional SUNI Bambang Prihandono menyampaikan persiapan yang tengah berjalan. Perusahaan terus menyiapkan sumber daya seiring rencana operasi pabrik baru. Beberapa uji coba produksi di fasilitas itu diklaim telah memberikan hasil yang cukup baik.

Tak hanya itu, SUNI juga mulai mengembangkan produk-produk baru. Tujuannya jelas: mengoptimalkan peningkatan kapasitas produksi dari pabrik kedua RTM.

Bambang juga menyoroti peran anak usaha lainnya, PT Petro Synergy Manufacturing (PSM). "Setelah memperoleh sertifikasi API dan TKDN, PSM telah beroperasi secara komersial dan diharapkan dapat terus meningkatkan kapabilitas dan pasarnya sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap kinerja SUNI,” katanya.

PSM, yang fokus memproduksi wellhead dan x’mas tree, diharapkan bisa mendukung perseroan dengan produk berstandar internasional dan harga kompetitif, sekaligus memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Di bagian keuangan, ceritanya agak berbeda. Direktur Keuangan SUNI Freddy Soejandy melihat kinerja positif yang mendukung tercapainya target laba.

“Sepanjang tahun 2025, perseroan telah merealisasikan belanja modal (capex) sebesar Rp190 miliar untuk menyelesaikan pembangunan pabrik ke-2 RTM. Perseroan akan dapat memenuhi kebutuhan dana untuk penyelesaian pabrik tersebut karena tahun depan sudah tidak akan terlalu signifikan lagi pengeluaran capexnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Freddy.

Beberapa catatan keuangan lain juga menarik. Total ekuitas SUNI naik 10% menjadi Rp863 miliar. Peningkatan ini bersumber dari laba tahun berjalan, setelah dikurangi pembagian dividen Rp50 miliar dan aksi buyback saham senilai Rp70 miliar.

Meski utang bank meningkat seiring pembangunan pabrik, rasio Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan tetap terjaga di angka 0,30 kali. Angka ini jauh lebih rendah dari batas ketentuan kredit yang maksimal 2,5 kali.

Arus kas dari aktivitas operasi SUNI di 2025 positif Rp93 miliar, meski turun 65% YoY karena pembayaran ke supplier. Pengeluaran kas untuk investasi cukup signifikan, sekitar Rp200 miliar, yang sebanding dengan tahun sebelumnya. Dana ini terutama untuk melanjutkan pembangunan pabrik kedua RTM di Batam. Sementara dari aktivitas pendanaan, arus kas bersih yang keluar sebesar Rp33 miliar digunakan untuk buyback saham dan dividen, di samping ada penerimaan pinjaman untuk pembangunan pabrik.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar