Laba PT Sunindo Pratama (SUNI) pada 2025 tercatat Rp192 miliar. Angka itu turun 7% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini, menurut laporan perseroan, tak lepas dari merosotnya pendapatan usaha.
Meski begitu, ada sisi positif yang patut dicatat. Capaian laba bersih itu ternyata melampaui target revisi perusahaan, yakni sebesar 112%. Artinya, dalam dua tahun terakhir, SUNI masih bisa mempertahankan level keuntungan yang cukup substansial. Kinerjanya dinilai tetap solid.
Lalu, bagaimana dengan pendapatannya? Di tahun yang sama, SUNI membukukan pendapatan usaha sebesar Rp982 miliar. Jumlah ini mengalami penyusutan sekitar 6% year-on-year (YoY).
Rupanya, penurunan itu terutama dipicu oleh menurunnya volume penjualan OCTG casing. Di sisi lain, penjualan untuk produk OCTG tubing justru menunjukkan tren peningkatan dibanding periode sebelumnya.
Direktur Utama SUNI, Willy Johan Chandra, menegaskan bahwa perseroan masih berada di jalur yang tepat. "Perseroan masih dalam jalur pertumbuhan yang diharapkan dan masih dalam pencapaian level laba yang cukup solid," ujarnya.
Menurut Willy, rata-rata penjualan dan laba beberapa tahun belakangan masih tergolong baik dan sesuai rencana strategis. Laba signifikan dalam dua tahun terakhir ini menjadi modal penting. Ia menyebut, dana itu akan mendukung pembiayaan pembangunan pabrik kedua RTM sekaligus kemampuan perusahaan untuk membagikan dividen.
"Saat ini perseroan masih memprioritaskan peningkatan kapasitas produksi internal melalui anak perusahaannya, PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM). Fasilitas pabrik ke-2 RTM ditargetkan mulai beroperasi pada semester ke-2 di 2026," jelas Willy dalam pernyataan resmi, Rabu (1/4/2026).
Secara fisik, pembangunan pabrik baru itu dikatakan hampir tuntas. Progres konstruksi sepanjang 2025 berjalan sesuai rencana, termasuk pemasangan mesin dan peralatan. Perseroan juga sedang mengurus sertifikasi API untuk fasilitas tersebut.
"Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi ini, diharapkan kinerja operasional dan finansial perseroan ke depan akan semakin optimal serta mampu memastikan ketersediaan OCTG tubing di tingkat nasional,” tambah Willy.
Artikel Terkait
Harga Emas Melonjak 1,95% Didorong Pelemahan Dolar dan Isu De-eskalasi Timur Tengah
IHSG Rebound 1,93% Didorong Deeskalasi Timur Tengah, Saham Konglomerat Melonjak
Lippo Karawaci Alokasikan Rp250 Miliar untuk Buyback Saham hingga 4,6%
Saham KRYA Anjlok Lebih dari 60%, Didorong Aksi Jual Pengendali Baru