Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan tidak boleh sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan harus menjelma menjadi ruang kesadaran kolektif bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda. Pernyataan itu disampaikan pria yang akrab disapa Ibas tersebut saat memberikan sambutan dalam Diskusi Kebangsaan Lintas Organisasi Mahasiswa di Gedung MPR RI, Jakarta, Minggu (25/5). Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Kebangsaan, Menguatkan Indonesia: Pergerakan, Harmoni, dan Pengabdian untuk Negeri” itu dihadiri oleh perwakilan dari berbagai organisasi mahasiswa lintas agama dan ideologi.
Menurut Ibas, Indonesia tidak boleh ikut terpecah oleh perbedaan. Ia menekankan bahwa kekuatan bangsa tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kemampuan untuk merawat keberagaman. “Kita harus menjadi bangsa yang kuat bukan karena seragam, tetapi karena mampu merawat keberagaman,” ujarnya di hadapan para peserta diskusi.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks mulai dari konflik geopolitik, ketimpangan ekonomi, krisis pangan dan energi, hingga ancaman polarisasi sosial akibat arus informasi yang tidak terkendali Ibas memandang mahasiswa dan pemuda harus tetap menjadi kekuatan moral bangsa. Ia mendorong mereka untuk bersikap kritis, namun tetap solutif dan berorientasi pada pengabdian.
Mengutip pesan Tan Malaka bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu menegaskan bahwa idealisme generasi muda merupakan bahan bakar perubahan sekaligus penentu arah masa depan bangsa. Sejarah Indonesia, katanya, selalu mencatat keterlibatan mahasiswa dan pemuda dalam setiap momentum penting, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Reformasi 1998.
“Kritis boleh, tetapi harus solutif. Berani harus, tetapi tetap bijaksana. Idealis wajib, tetapi juga realistis,” tegas anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII itu.
Ibas juga mengajak organisasi mahasiswa untuk terus menjaga persaudaraan kebangsaan, memperkuat literasi digital, membangun dialog lintas identitas, serta mengawal konstitusi dan kebijakan pemerintah secara konstruktif. Menurutnya, pergerakan mahasiswa saat ini tidak cukup hanya menjadi gerakan kritik, melainkan harus mampu menjadi gerakan solusi dan pengabdian bagi masyarakat. “Jika baik kita dukung, jika kurang kita kritisi dengan solusi, dan jika salah kita perbaiki bersama,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pendidikan generasi muda, Ibas yang juga lulusan Master of Science in International Political Economy dari Nanyang Technological University, Singapura, itu menyerahkan puluhan beasiswa kepada mahasiswa yang membutuhkan. Bantuan tersebut diberikan untuk menjadi pemantik semangat agar mahasiswa dapat terus melanjutkan pendidikan, mengembangkan kapasitas diri, dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.
Di akhir sambutannya, Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN itu mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk terus merajut kebangsaan dengan harmoni serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk memperkuat Indonesia. “Mari jadikan mahasiswa sebagai penjaga masa depan bangsa,” pungkasnya.
Kegiatan diskusi tersebut dihadiri oleh sejumlah organisasi mahasiswa lintas agama dan ideologi, antara lain HMI, GMNI, IMM, KMHDI, HIKMAHBUDHI, PMKRI, KAMMI, GMKI, dan PMII. Turut mendampingi Ibas dalam agenda itu Sekretaris Fraksi Partai Demokrat MPR RI sekaligus Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto, Kapoksi Komisi X DPR RI Sabam Sinaga, serta Anggota Komisi X DPR RI Bramantyo Suwondo.
Artikel Terkait
PKB Sambut Putusan MK soal Keterwakilan Perempuan 30 Persen di Parlemen
Gubernur Sumut Dorong Pemadaman Listrik Massal Jadi Momentum Evaluasi Total PLN
Masjid Raya Pondok Indah Dipenuhi Jemaah Salat Idul Adha, Lalu Lintas Sekitar Tersendat
5 Lagu Religi Populer untuk Temani Suasana Khidmat Iduladha di Rumah