Kementerian Pertanian Klaim Siap Hadapi El Nino Ekstrem, Stok Beras Aman

- Selasa, 31 Maret 2026 | 19:00 WIB
Kementerian Pertanian Klaim Siap Hadapi El Nino Ekstrem, Stok Beras Aman

Jakarta – Ancaman El Nino ekstrem yang diprediksi melanda mulai April mendatang tak lagi jadi momok yang menakutkan. Setidaknya, begitulah keyakinan yang disampaikan Kementerian Pertanian. Menyongsong periode kering yang bisa berlangsung hingga enam bulan ke depan, pemerintah mengklaim telah memperkuat infrastruktur dan mendongkrak produksi. Tujuannya satu: menjaga stok pangan nasional tetap stabil.

“Insyaallah pangan, khusus sektor pangan itu aman,” tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementan, Senin lalu. Menurutnya, fenomena El Nino ini diperkirakan mulai bulan depan, April, dan berpotensi berlangsung lama.

Pengalaman pahit jadi guru terbaik. Amran mengaku strategi mitigasi saat ini banyak berpijak pada pelajaran dari menghadapi El Nino 2023 silam. Waktu itu, ancaman kekeringan cukup berat menghadang.

“Dulu tahun 2023 itu ada El Nino juga yang tidak kalah kerasnya, dahsyatnya,” kenangnya.

Dalam sebuah rapat terbatas, rencana impor beras bahkan sempat mengemuka dengan angka fantastis, sekitar 10 juta ton. Namun, berkat sejumlah intervensi cepat di lapangan, angka itu berhasil ditekan drastis.

“Tapi dengan kerja keras, paralel, sambil kita kerja keras mengantisipasi El Nino, kita melakukan pompanisasi, irigasi, oplah (optimalisasi lahan), itu kita tekan sampai impor hanya sekitar 3 juta ton,” jelas Amran.

Keberhasilan itu lantas jadi pemicu. Sepanjang 2024, pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian digenjot lebih cepat. Hasilnya, kondisi kesiapan saat ini dinilai jauh lebih baik. “Nah itu alhamdulillah berhasil, tahun berikutnya (2024) kita lakukan akselerasi, jadi infrastruktur untuk menghadapi El Nino sudah jauh lebih baik,” ungkapnya.

Lalu, langkah kongkrit apa yang sudah disiapkan? Mentan menyebut sejumlah hal. Pertama, penguatan pompanisasi dengan pemasangan puluhan ribu unit pompa di berbagai sentra produksi. Sistem irigasi juga dipastikan berjalan optimal untuk menjaga suplai air saat kemarau panjang nanti.

“Pompanisasi, itu puluhan ribu pompa di lapangan, dan sudah terpasang, irigasi pompa sudah jalan,” ujarnya.

Selain itu, program optimalisasi lahan atau ‘oplah’ terus digenjot. Tujuannya meningkatkan indeks pertanaman. Lahan yang dulu cuma bisa ditanami sekali, sekarang diupayakan bisa dua bahkan tiga kali tanam.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar