Melihat potensi besar ini, pemerintah pun tak tinggal diam. Berbagai stimulus sudah disiapkan untuk menyambut Idulfitri 2026. Angkanya tidak main-main: stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, bansos senilai Rp11,92 triliun untuk lebih dari 5 juta keluarga, plus diskon tarif transportasi hampir Rp1 triliun.
Mengingat konsumsi rumah tangga menopang lebih dari separuh PDB, langkah-langkah ini diharapkan bisa menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Kebijakan pendukung seperti diskon tiket, subsidi penerbangan, sampai program mudik gratis juga akan dilanjutkan.
Ada satu hal menarik lainnya: kebijakan Work From Anywhere (WFA). Ternyata, ini bukan cuma tren kerja, tapi juga memperpanjang durasi mudik. Orang bisa lebih lama di kampung halaman sambil tetap bekerja dan dapat gaji. Alhasil, waktu untuk berbelanja dan menggerakkan ekonomi daerah pun jadi lebih panjang.
Fundamental Ekonomi Dinilai Kuat
Lalu, bagaimana dengan kondisi global yang sedang tidak menentu? Konflik geopolitik seperti di Timur Tengah memang jadi tekanan tersendiri. Namun begitu, pemerintah tampak percaya diri.
"Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Pemerintah juga berkomitmen tidak menaikkan harga BBM, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,"
tegas Haryo.
Ia menambahkan, dengan momentum mudik yang positif ini, target pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan bisa digenjot ke kisaran 5,5 hingga 5,6 persen. Sebuah optimisme yang cukup realistis, melihat geliat yang selalu tercipta setiap usai Ramadan.
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu
Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang Lebaran
Veda Ega Pratama Raih Podium Moto3 Brazil Usai Strategi Cerdas di Balik Bendera Merah