Dampaknya Tak Sama di Semua Tempat
Kombinasi El Nino dan IOD positif ini diproyeksikan bertahan sepanjang musim kemarau, dari April hingga Oktober 2026. Tapi jangan bayangkan dampaknya akan seragam. Nyatanya, setiap wilayah akan merasakan efek yang berbeda-beda.
Berdasarkan pemodelan mereka, wilayah seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) akan lebih dulu merasakan kemarau kering. Ini jelas mengkhawatirkan, mengingat kawasan tersebut adalah lumbung pangan nasional. Gangguan pada sektor pertanian sangat mungkin terjadi.
Namun begitu, ceritanya bakal lain di timur. Wilayah seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera diprediksi masih akan kebagian curah hujan yang cukup tinggi, meski secara kalender sedang memasuki musim kemarau. Perbedaan mencolok ini tentu menuntut strategi mitigasi yang spesifik dan tidak bisa disamaratakan.
Risiko yang mengintip beragam. Mulai dari ancaman kekeringan parah di selatan yang bisa mengganggu ketahanan pangan, potensi banjir dan longsor di timur akibat hujan berlebih, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan.
Tapi di balik semua tantangan itu, ada secercah peluang. Kemarau kering yang panjang justru bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi garam nasional, khususnya di wilayah selatan. BRIN bahkan melihat potensi Indonesia menuju swasembada garam pada periode 2026–2027.
Erma menekankan, kunci utamanya adalah kesiapan pemerintah menghadapi dampak iklim yang kompleks dan berbeda-beda ini.
Artikel Terkait
Kilas Balik 22 Maret: Dari Arca Buddha Zamrud hingga Letusan Gunung Redoubt
Dortmund Bangkit dari Ketertinggalan Dua Gol untuk Kalahkan Hamburg
AC Milan Tundukkan Torino 3-2 dalam Laga Sengit di San Siro
Tiga Anak di Jombang Terluka Parah Akibat Petasan Rakitan, Satu Harus Diamputasi