Pasukan Bawah Tanah Prabowo Bantu Anak 10 Tahun di Gunungkidul yang Berhenti Sekolah Rawat Orang Tua Sakit

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:30 WIB
Pasukan Bawah Tanah Prabowo Bantu Anak 10 Tahun di Gunungkidul yang Berhenti Sekolah Rawat Orang Tua Sakit

Di sebuah rumah sederhana di Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Ahmad Tri Efendi yang baru berusia 10 tahun menjalani hari-harinya dengan berat. Bocah itu terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Alasannya sederhana sekaligus mengharukan: ia harus merawat kedua orang tuanya yang sama-sama sakit.

Mendengar kisah itu, Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo wilayah Gunungkidul pun bergerak. Mereka mendatangi rumah Fendi panggilan akrabnya untuk menyapa dan menyalurkan bantuan. Bukan cuma sekadar seremonial. Rombongan membawa beras, minyak, dan berbagai kebutuhan pokok harian lainnya sebagai bentuk dukungan nyata, baik moril maupun materiil.

Ketua DPC Pasbata Prabowo Gunungkidul, Martin, menegaskan sikap mereka.

“Kami hadir untuk Efendi. Jangan sampai ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kondisi keluarga. Ini panggilan kemanusiaan,” ujarnya, Jumat (20/3/2026).

Martin juga menyatakan kesiapan mereka berkoordinasi dengan pemda dan pihak terkait. “Kami siap membantu mencarikan solusi terbaik, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan keluarganya,” lanjutnya.

Kondisi keluarga Fendi memang memprihatinkan. Ibunya lumpuh akibat stroke dan gangguan saraf. Sementara sang ayah, Slamet, juga mengalami gangguan saraf yang membatasi geraknya. Di usia belia, Fendi sudah harus bertanggung jawab penuh: memberi minum, menjaga, dan menemani ibunya hingga larut malam.

Menurut Wahono, Ketua RT setempat, Fendi sebenarnya sempat merasakan sekolah. Tapi semua berubah saat ia naik dari kelas satu ke kelas dua. Kesehatan ibunya memburuk drastis, dari kebutaan hingga akhirnya lumpuh total.

“Karena ibunya sakit, Fendi berhenti sekolah. Tidak ada support dari orang tua karena keduanya sakit,” jelas Wahono.

Ia menggambarkan betapa dekatnya Fendi dengan ibunya. “Fendi itu selalu merawat ibunya, memegangi, memberi minum. Kehadirannya bisa membuat ibunya tersenyum,” tambahnya.

Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan untuk mengembalikan Fendi ke sekolah. Keluarga, pihak sekolah, hingga warga sudah mencoba. Bahkan, ada tawaran menggiurkan: sekolah gratis di sebuah panti asuhan di Bantul. Sayangnya, Fendi menolak.

Alasannya polos dan membuat hati trenyuh. “Kalau di panti pulangnya beberapa bulan sekali. Fendi tidak mau jauh dari ibunya,” kata Wahono.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sendiri dikabarkan telah berkomitmen untuk membantu. Mereka berjanji akan memfasilitasi Fendi kembali bersekolah dengan pendekatan khusus, sekaligus memastikan orang tuanya mendapat penanganan kesehatan yang layak.

Kunjungan Pasbata ini, meski mungkin terlihat kecil, adalah sebentuk aksi nyata. Ia mengingatkan kita pada semangat gotong royong yang seharusnya tak pernah padam. Intinya sederhana: memastikan tidak ada anak, seperti Fendi, yang masa depannya terkubur oleh keadaan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar