Dini hari di Pelabuhan Samarinda, Minggu kemarin, pemandangannya tak biasa. Bukan hanya aktivitas bongkar muat yang biasa terlihat, melainkan hamparan orang-orang yang tertidur lelap di lantai. Mereka adalah ratusan pemudik, dengan satu tekad: pulang kampung untuk Lebaran. Rasa lelah sepertinya kalah oleh semangat untuk sampai di rumah. Mayoritas datang dari luar kota, dan kekhawatiran tertinggal kapal menuju Parepare, Sulsel, membuat mereka memilih menginap di ruang terbuka pelabuhan dengan alas seadanya.
“Kami datang lebih cepat agar tidak ketinggalan kapal,” ujar Indra, suaranya terdengar lirih di tengah kerumunan.
Dia melanjutkan, “Lebih baik menunggu di sini daripada risiko terlambat karena perjalanan jauh.” Logikanya sederhana, tapi tegas. Jarak tempuh yang panjang dari daerah asal ke Samarinda menjadi pertimbangan utama. Daripada ambil risiko macet atau halangan lain di perjalanan, bermalam di pelabuhan dianggap jaminan untuk bisa naik kapal tepat waktu.
Penumpang lain, Adi, mengaku kondisi kali ini berbeda. Biasanya, kata dia, penumpang bisa langsung naik ke geladak kapal untuk menunggu. Namun sekarang, mereka harus rela tertahan di halaman.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Stagnan, Jual-Beli Tak Berubah per 15 Maret 2026
Harga Emas Antam Stagnan, Patokan Masih Rp2,9 Juta per Gram
Khalil dan Appank Juara Liga Ramadan Domino IKA Unhas 2026
Real Madrid Hajar Elche 4-1, Kokoh di Puncak Klasemen La Liga