Dekai, Yahukimo – Operasi penegakan hukum di Papua Pegunungan kembali mencatatkan hasil. Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 berhasil menangkap seorang pria yang diduga sebagai anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB). Dia adalah Philip Kobak, atau yang biasa dipanggil Nenak Kobak.
Penangkapan ini bukan terjadi dalam sekejap. Tim dari Satgas Gakkum harus melakukan pemantauan ketat, pengejaran, dan penyisiran di sekitar area Gereja GIDI Kali Brasa, Dekai. Semua itu berujung pada Sabtu sore, tepatnya pukul 16.44 WIT tanggal 7 Maret lalu.
Ceritanya begini. Sekitar pukul tiga setengah sore, tim mulai memindai target. Tak lama, sekitar setengah jam kemudian, sosok Kobak terlihat di pertigaan Jalan Jhon Banua. Begitu menyadari kehadiran aparat, dia langsung kabur. Kendaraannya ditinggalkan, lalu dia menghilang ke arah hutan. Tapi penyisiran yang teliti akhirnya membuahkan hasil. Pria itu diamankan tak jauh dari lokasi gereja.
Menurut Kasatgas Humas, Kombes Pol Yusuf Sutejo, ini adalah buah dari pengembangan penyelidikan yang lebih luas.
"Penangkapan terhadap Philip Kobak alias Nenak Kobak merupakan bagian dari pengembangan penyelidikan Satgas Gakkum terhadap jaringan kelompok kriminal bersenjata di wilayah Yahukimo,"
jelasnya pada Senin (9/3).
Peran Kobak dalam kelompok tersebut disebut cukup signifikan. Dia diduga menjabat sebagai Komandan Operasi Kompi Kimbusa Kodap XVI Yahukimo. Tak hanya itu, namanya juga dikaitkan dengan sejumlah aksi kekerasan yang sempat mengguncang daerah itu. Di antaranya adalah peristiwa pembacokan terhadap Muhammad Syarif awal Januari lalu, dan aksi pembakaran SMK Negeri 2 Dekai pada pertengahan Februari.
Saat ditangkap, beberapa barang diamankan dari tasnya. Ada uang tunai sekitar Rp1,1 juta, sebuah ponsel ITEL warna pink, tas hitam, noken, hingga senter dan charger. Tapi, penggeledahan lebih lanjut di rumahnya di Kampung Tomon 2 justru mengungkap barang yang lebih serius.
Dari sana, tim menyita puluhan selongsong amunisi bekas, plus beberapa butir amunisi aktif kaliber 5,56 mm dan 9 mm. Juga ada senjata tradisional seperti busur beserta 31 anak panah, parang, kapak, sangkur, dan pisau.
Kepala Operasi, Brigjen Pol Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa langkah ini adalah wujud komitmen penegakan hukum.
"Upaya yang dilakukan aparat merupakan bagian dari penegakan hukum yang dilaksanakan secara profesional, terukur, dan sesuai prosedur,"
tegasnya.
Di sisi lain, Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol Adarma Sinaga, punya pesan untuk warga. Situasi memang harus tetap dijaga.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya,"
imbuhnya.
Dengan ditangkapnya Kobak, Satgas Damai Cartenz menyatakan akan terus bergerak. Tujuannya jelas: menindak tegas pihak-pihak yang terlibat kekerasan agar keamanan di Papua Pegunungan bisa benar-benar kondusif. Jalan masih panjang, tapi langkah ini dianggap penting.
Artikel Terkait
Bayi 5 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Manado, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
Andi Taletting Langi Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua IKA Politik Unhas Periode 2026-2030
Dua Pelajar Tewas dalam Kecelakaan Maut di Perempatan Alun-Alun Purwodadi
Purbaya Bantah Isu APBN Hanya Rp120 Triliun, Tegaskan Kas Negara Masih Aman