Pelatihan Training of Trainer (ToT) untuk Al-Qur’an Isyarat gelombang pertama, yang digelar sejak September lalu, ternyata sudah membuahkan hasil. Tak sekadar teori, program ini berhasil mencetak sejumlah pengajar baru yang kini siap membagikan ilmu bahasa isyarat Al-Qur’an kepada anak-anak tunarungu.
Dampaknya langsung terasa di lapangan. Para guru yang ikut pelatihan pulang dengan segudang pengetahuan baru mulai dari cara memahami Al-Qur’an versi isyarat, strategi mengajarkannya di kelas, sampai langkah melibatkan orang tua murid dalam proses belajar.
Bukhori, salah satu guru di SLB Negeri 7 Jakarta, mengaku takjub dengan pengalamannya mengikuti ToT tersebut. Baginya, materi tentang Al-Qur’an berbahasa isyarat benar-benar membuka mata.
“Puji syukur, lewat kegiatan ini saya dapat pengalaman berharga,” ujarnya.
“Ternyata ada Al-Qur’an yang memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas tunarungu. Murid-murid kami juga sangat antusias. Selama ini mereka belum punya metode baca Al-Qur’an yang benar-benar sesuai kebutuhan mereka.”
Menurut Bukhori, kehadiran Al-Qur’an isyarat ini bukan cuma alat bantu, tapi terobosan penting bagi pendidikan inklusif dan agama. Ia pun tak berhenti di ruang kelas. Sekolahnya kini aktif mengajak wali murid untuk ikut belajar bahasa isyarat Al-Qur’an.
“Penguatan literasi agama pada anak-anak penyandang disabilitas bisa sia-sia kalau cuma di sekolah,” katanya. “Dukungan dari rumah itu krusial.”
Ia menambahkan, “Sangat penting bagi orang tua murid untuk paham Al-Qur’an Isyarat. Dengan begitu, pembelajaran agama di rumah juga akan berjalan baik. Kami ingin pemahaman ini menyentuh sisi emosional dan spiritual, baik bagi murid maupun orang tuanya.”
Artikel Terkait
Kapal Perang Iran Ditenggelamkan Kapal Selam AS di Lepas Pantai Sri Lanka
Menhub Siapkan 841 Kapal untuk Angkut 3,2 Juta Pemudik Lebaran 2026
IHSG Melonjak 1,67%, Sentimen Positif Dominasi Pasar Saham
Mojtaba Khamenei, Putra Pemimpin Tertinggi, Disebut Calon Kuat Penerus Kekuasaan di Iran