Kariernya berlapis-lapis. Dia seorang veteran Garda Revolusi, pernah memimpin stasiun televisi negara IRIB selama sepuluh tahun, dan duduk sebagai Ketua Parlemen untuk periode yang cukup panjang, dari 2008 hingga 2020. Meski beberapa kali gagal dalam pemilihan presiden terakhir didiskualifikasi pada 2021 dan 2024 pengaruhnya tak pernah benar-benar pudar. Dia tetap berada di dalam lingkaran kekuasaan.
Sumpah dan Janji Balas Dendam
Pasca-tragedi, Larijani tidak tinggal diam. Lewat akun media sosialnya, dia melontarkan ancaman yang keras dan gamblang terhadap AS.
Pernyataan serupa datang dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Dalam sikap yang beriringan, dia menegaskan bahwa membalas dendam bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
Nada dari Teheran jelas: keras dan tak berkompromi. Dunia kini menunggu, apa langkah konkret berikutnya dari rezim yang sedang berduka dan murka ini, dengan Ali Larijani sebagai sosok kunci di balik layar atau mungkin, justru di garis depan.
Artikel Terkait
PKB Kecam Serangan Udara ke Pemimpin Iran, Desak PBB Selidiki Pelanggaran Hukum Internasional
Film Kolosal Macan Betina dari Timur Angkat Kisah Pahlawan Luwu Opu Daeng Risadju
Harga Emas Galeri24 dan UBS Naik di Awal Pekan
Menhub Imbau Maskapai Tingkatkan Kewaspadaan Terkait Konflik Timur Tengah