Bayangkan. Bandingkan dengan opsi darat yang paling cepat pun memerlukan 17 hingga 18 jam perjalanan melelahkan. Perbedaan yang nyaris satu hari penuh.
Di sisi lain, respon warga langsung terasa. H Bustang, seorang pengusaha asal Bone, tak menyembunyikan rasa leganya. "Rute ini sangat membantu. Karena selain hemat waktu, juga hemat biaya," katanya.
Bustang mengaku hampir tiap bulan harus bolak-balik ke Morowali untuk urusan bisnis. "Kalau lewat darat, paling singkat 18 jam. Capek, ya. Dengan adanya pesawat ini, hidup kami para pengusaha jadi jauh lebih mudah. Waktu kan sangat berharga," jelasnya.
Kesaksian serupa datang dari Afif, pemuda asal Soppeng yang baru saja turun dari pesawat. Saat ditemui, ia tampak gembira.
Ternyata, Afif adalah salah satu pekerja di kawasan industri tambang Morowali. "Saya lagi cuti kerja. Kebetulan dengar info ada rute baru ini, langsung saya coba pesan tiket. Harganya ternyata cukup terjangkau," ucapnya dengan senyum.
Pembukaan rute ini seperti menjawab kerinduan. Bukan sekadar menghubungkan dua titik di peta, tapi lebih pada menyambung silaturahmi dan memutar roda ekonomi dengan lebih lincah. Bagi para perantau Sulsel di Morowali, langit Bone kini terasa lebih dekat.
Artikel Terkait
Satgas Cartenz 2026 Ungkap Ladang Ganja 226 Batang di Pegunungan Bintang
IHSG Melonjak 2,07%, Catat Kenaikan Mingguan Lebih dari 6%
Uji Jalan B50 Capai 70%, Target Implementasi Juli 2026
KPK Ungkap Awal OTT Bupati Tulungagung Berawal dari Laporan Warga