“Saya enggak ikhlas anak saya dituntut mati karena dia tidak mengetahui itu barang, tidak terlibat dengan jaringan narkoba sebanyak itu, apalagi dia dengan posisi baru berlayar. Jadi dimana salahnya? Makanya saya gak terima anak saya dialah harapan kami, dialah kebanggaan keluarga, dialah tulang punggung kami,” lanjutnya.
Pengorbanan Seorang Ibu
Keputusasaan dan keyakinan akan ketidakbersalahan Fandi bahkan mendorong Nirwana pada sebuah pernyataan yang mengharukan. Ia menyatakan kesediaannya untuk menggantikan posisi anaknya jika hukuman itu benar-benar harus dijalankan, sebuah pengakuan yang menunjukkan betapa dalamnya ikatan dan keyakinan seorang ibu.
“Saya enggak mau anak saya dihukum mati, biarlah saya yang jadi gantinya, saya rela, saya ikhlas demi anak saya. Makanya saya bermohon kepada Bapak Presiden Prabowo tolonglah bantu saya. Saya orang yang tak punya, orang susah kemana lagi saya minta tolong kecuali sama beliau karena dialah harapan saya satu-satunya,” tuturnya.
Permohonan ini menambah dimensi manusiawi dalam kasus hukum yang kompleks, menyoroti pergulatan keluarga di balik tirai proses peradilan pidana berat. Kasus ini terus berkembang dan menarik perhatian publik, menunggu proses hukum selanjutnya.
Artikel Terkait
Malaria dan Sikap Dingin Belanda Renggut Nyawa Ibu Mertua Soekarno di Pengasingan Ende
Standing Ovation dari Tifosi Inter untuk Bastoni di Tengah Sorotan Negatif
Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Rampung dalam Tiga Tahun
Kiper Bosnia Curi Catatan Penalti Donnarumma, Picu Kontroversi di Laga Internasional