Surat untuk Mama, Tagihan untuk Negara
Oleh: Wahyu Ari Wicaksono, Storyteller
Angin Ngada masih berhembus, membelai dahan-dahan pohon cengkeh. Aromanya seharusnya harum. Tapi sejak Kamis siang lalu, bau kesedihan yang pekat justru memenuhi udara. Di bawah salah satu dahan itu, di depan pondok kayu yang reyot, seorang anak sepuluh tahun memutuskan untuk tak lagi menunggu. Ia menggantungkan tubuh kecilnya dengan seutas tali.
Di sakunya atau mungkin tergeletak di tanah kering terselip selembar kertas. Isinya surat untuk ibunya, Reti. Ditulis dalam bahasa Ngada, bahasa yang jauh lebih ia kuasai daripada bahasa negara yang ternyata gagal melindunginya.
“Mama, saya pergi dulu. Jangan menangis ya Mama.”
Kalimat itu sederhana. Dan menghancurkan. Itulah pamit terakhir YBS, siswa kelas IV yang depresi. Menurut kabar yang beredar, pemicunya adalah keinginan yang begitu kecil. Hanya buku dan pensil. Alat untuk menulis masa depannya. Tapi bagi keluarganya, itu bagai gunung yang tak terangkul.
Negara ini setiap tahun membanggakan anggaran pendidikan triliunan rupiah. Namun nyatanya, tak ada alokasi untuk satu paket buku tulis dan beberapa batang pensil bagi seorang anak di Nusa Tenggara Timur.
Di Jakarta, suasana berbeda. Udara masih beraroma kopi dan janji. Menteri Pendidikan mengatakan akan menyelidiki. “Saya belum tahu informasinya,” katanya. Pernyataannya telanjang, tanpa kepanikan atau rasa ngeri. Hanya prosedur birokrasi yang dingin.
Di sisi lain, Menteri Sosial menyatakan prihatin dan berjanji memperkuat data. Seolah YBS cuma nomor statistik yang perlu dimasukkan ke spreadsheet, bukan manusia yang mati karena terlempar dari sistem. Sungguh ironi yang pahit. Seorang anak mati karena tak terdata dengan baik, sementara para menteri berjanji memperbaiki data. Ia sudah menjadi data paling tragis: data kematian yang seharusnya tak perlu terjadi.
Namun begitu, ada satu suara di Senayan yang memotong kabut basa-basi. Seorang anggota dewan berseru, “Jangan biarkan anak-anak memikul beban hidup sendirian.”
Kalimat itu seperti pisau yang menohok. Benar, YBS memikul bebannya sendirian. Beban seharga belasan ribu rupiah. Beban yang mestinya jadi kewajiban konstitusional negara. Pemenuhan kebutuhan belajar, tegas wakil rakyat itu, harus ditanggung negara. Pernyataannya bukan lagi wacana. Itu dakwaan. Bahwa negara ini telah membiarkan pembunuhan rasa ingin tahu seorang anak. Negara membiarkan tali di pohon cengkeh menjadi solusi, sementara pensil dan buku tak kunjung datang.
Artikel Terkait
Gerakan Rakyat Desak Parlemen: Hapus Total Ambang Batas, Jangan Hanguskan Suara Rakyat
Hakim Panggil Khofifah ke Sidang Kasus Hibah Pokmas Jatim
Tiga Nyawa Melayang di Tol Cipali Diduga Akibat Kurang Antisipasi
DIY Siapkan Rp4,5 Miliar untuk Tekan Stunting hingga 8,4%