Tapi jangan salah, rakyat tidak buta. Mereka mungkin memilih untuk diam, tapi mereka mencatat dengan baik. Mereka mungkin bersabar, tapi ingatan mereka kuat. Kepercayaan yang dikhianati tidak serta-merta meledak saat itu juga. Ia mengendap, menunggu waktu yang tepat.
Pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang tak pernah ragu. Justru, pemimpin yang kuat adalah yang berani mengakui keraguannya, lalu kembali pada rakyat untuk mencari jawabannya. Keraguan yang dibagi dan didialogkan bisa berubah jadi kebijaksanaan. Sebaliknya, keraguan yang disembunyikan dan dibiarkan tersembunyi di balik tembok kekuasaan akan membusuk dan menjadi sinisme.
Sayangnya, banyak yang memilih jalan kedua. Mereka sibuk membangun tembok dari narasi-narasi indah, statistik mentereng, dan jargon-jargon yang sulit dipahami. Berharap tembok itu cukup kokoh untuk menahan gelombang kekecewaan. Padahal, tembok setebal apapun tak akan sanggup menahan sebuah kebenaran yang sederhana: rakyat tahu persis kapan mereka ditinggalkan.
Bersama rakyat, seorang pemimpin menemukan kekuatannya. Bukan karena rakyat selalu menyetujui segala hal, tapi karena rakyat memberinya legitimasi moral. Legitimasi semacam ini tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa direkayasa, dan tidak bisa diukur lewat survei kilat. Ia tumbuh dari satu hal: konsistensi. Antara kata dan perbuatan, antara janji dan keberanian untuk mewujudkannya.
Memilih untuk berdiri bersama rakyat sering berarti harus rela kehilangan sebagian kenyamanan. Bisa jadi ada serangan, cemoohan, bahkan pengkhianatan. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang didapat: kepercayaan. Dan dalam jangka panjang, kepercayaan adalah satu-satunya modal politik yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Sebaliknya, pemimpin yang terus-menerus ragu untuk memihak akan pelan-pelan kehilangan pijakannya. Mungkin secara formal ia masih berkuasa, tapi secara substantif ia kosong. Kekuasaan seperti ini rapuh terlihat kokoh dari luar, tapi sebenarnya retak dari dalam.
Tulisan ini bukanlah seruan untuk romantisme buta terhadap massa, apalagi pembenaran untuk kebijakan yang tak masuk akal. Ini lebih pada pengingat yang sunyi: demokrasi bukan cuma soal prosedur dan tatacara, tapi juga soal keberanian moral. Bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak diukur dari betapa amannya posisinya, melainkan dari seberapa besar risiko yang ia ambil untuk mereka yang diwakilinya.
Rakyat tidak menunggu pemimpin yang tak pernah goyah. Mereka menunggu pemimpin yang saat goyah, memilih untuk kembali pada rakyat bukan lari ke lingkaran kekuasaan. Sebab di sanalah, di tengah-tengah rakyat, keraguan menemukan arahnya dan kekuatan menemukan makna sejati.
Jika hari ini masih ada keraguan, biarlah itu diakui dengan jujur. Tapi jangan sampai keraguan itu dijadikan alasan untuk menjauh. Sejarah, pada akhirnya, selalu lebih keras menghakimi mereka yang memilih untuk aman, daripada mereka yang memilih untuk benar.
Kekuasaan suatu saat akan berlalu. Jabatan pasti berakhir. Tapi satu pertanyaan akan tetap tinggal: apakah ia pernah benar-benar berdiri bersama rakyatnya, di saat mereka paling membutuhkan? Kita lihat saja nanti. Tabik.
Artikel Terkait
Era Arief Hidayat Berakhir, MK Gelar Wisuda Purnabakti untuk Sang Mantan Ketua
Bus PO Haryanto Meledak Jadi Lautan Api di Tol Pemalang, Seluruh Penumpang Selamat
Kisah Kiki: Amukan di Bintaro Berakhir dengan Permintaan Maaf
Sangadji: Jangan Bayangkan Sidang, Kasus Ijazah Jokowi Masih Panjang