Menurut Anwar, Presiden menegaskan bahwa perjuangan di BOP nanti tidak akan dilakukan sendirian. Akan ada kolaborasi dengan negara-negara Islam lainnya demi tujuan perdamaian dunia. Namun begitu, ada catatan penting. Keikutsertaan ini sifatnya kondisional, tidak mutlak selamanya.
"Dan apabila di kemudian hari ternyata tidak memberi kemaslahatan dan kebaikan organisasi ini kepada Palestina, kepada perdamaian dunia, maka seluruh negara-negara Islam yang berkumpul di situ akan keluar dari BoP," kata Anwar menyampaikan penegasan dari Presiden.
Di sisi lain, pembicaraan mereka ternyata juga menyentuh urusan domestik. Anwar menyebut, selain isu Palestina, Presiden Prabowo menyampaikan komitmennya pada hal-hal dalam negeri.
"Ini yang penting kita catat, selain dari tadi itu komitmen dia untuk berpihak kepada kepentingan rakyat, kesejahteraan rakyat Indonesia, komitmen dia untuk anggota korupsi, dan komitmen dia untuk membawa negara ini menuju kemakmuran dan kebaikan yang lebih baik di masa-masa yang akan datang," paparnya.
Lalu, bagaimana dengan dampaknya bagi ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia sendiri? Menanggapi pertanyaan itu, Anwar melihat ada pertimbangan yang lebih mendasar dari Presiden. Menurutnya, aspek keamanan nasional menjadi pertimbangan paling pokok dalam keputusan ini. Bagaimanapun, Indonesia adalah bagian dari politik global. Dan itu sebuah kenyataan yang tak bisa diabaikan.
Artikel Terkait
CBA Soroti Dugaan Pemborosan Rp 338 Miliar untuk Dukungan Teknis Oracle
Gaza Kehilangan Sepersepuluh Penduduknya dalam Gelombang Agresi Israel
Mendagri Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Pemulihan Tak Cukup dari Bantuan Sembako
MUI Balik Haluan, Dukung Langkah Prabowo di Dewan Perdamaian Gaza