Di sisi lain, politik memang penuh kejutan. Ada juga yang modalnya pas-pasan tapi akhirnya menang. Ambil contoh Pramono Anung melawan Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta dulu. Elektabilitasnya cuma nol koma, sementara RK sudah mendekati 50%. Eh, yang menang malah Pramono.
Atau yang lebih dulu, saat Anies Baswedan melawan Ahok di Pilgub Jakarta 2012. Artinya, medan pertarungan itu selalu punya dinamikanya sendiri. Kasus Pramono bukan yang pertama. Anies sudah merasakannya. Bahkan Jokowi sendiri dulu waktu melawan Foke.
Namun begitu, politik kontestasi tentu beda dengan perang sungguhan. Dalam perang, pilihannya cuma dua: menang atau kalah, hidup atau mati. Sementara di politik, ada yang ikut kontes bukan semata untuk menang.
Bagi mereka, ikut bertarung saja sudah merupakan sebuah kemenangan. Apalagi di pemilu serentak 2029 nanti, yang katanya syaratnya lebih longgar. Bisa saja kalah di Pilpres, tapi suara partai di Pileg justru naik. Strateginya jadi lebih kompleks.
Jadi, strategi ala Sun Tzu yang disebut Hasan Nasbi itu, mungkin nggak sepenuhnya bisa diterapkan di situasi 2029 nanti. Medannya sudah berubah.
(")
Artikel Terkait
Prabowo Dapat Dukungan Ormas Islam untuk Langkah Diplomasi Palestina
Strategi Sun Tzu di Balik Rekor Tak Terkalahkan Jokowi
Potensi Rp70 Triliun Tersandera: Mengapa Game Lokal Cuma Kuasai 5% Pasar Sendiri?
Pandji Pragiwaksono Sowan ke MUI, Tabayyun Soal Kontroversi Mens Rea