“Gagah perkasa mengabdi kepada yang dikawal, tapi lupa bahwa rakyat yang membayar gajinya,” sindirnya pedas.
Namun begitu, ada hal yang lebih mengkhawatirkan menurut Alvin: akumulasi kemarahan publik. Ia mengingatkan aparat untuk tidak mengabaikan hal ini. Dengan nada serius, ia menyinggung gejolak sosial akhir Agustus 2025 silam sebagai pelajaran berharga. Peristiwa itu, katanya, menunjukkan betapa berbahayanya dampak dari ketidakadilan dan arogansi yang telanjur dibiarkan di ruang publik.
“Jangan sampai aparat lupa seperti apa wajah kemarahan rakyat ketika rasa keadilan dilanggar,” pungkas Alvin.
Kritiknya juga menyasar Divisi Humas Polri. Alvin berharap mereka tak cuma sibuk urusan pencitraan. Lebih penting lagi, Humas perlu menjelaskan dengan terbuka soal standar operasional pengawalan dan yang utama memastikan prioritas tetap pada kepentingan publik.
Sampai saat ini, pihak kepolisian sendiri belum memberikan keterangan resmi apa pun. Alasan konkret di balik penghentian bus TransJakarta itu masih menjadi tanda tanya besar.
Artikel Terkait
Hasan Nasbi Ungkap Prinsip Sun Tzu di Balik Strategi Politik Jokowi
Sido Muncul Usir Kabut Katarak untuk 200 Mata di Bandung
Viral! Bocah 10 Tahun di Ngada Tulis Surat ke Ibu Sebelum Akhiri Hidupnya: Mama Saya Pergi...
Pascabencana, Mendagri Tito Soroti Kembalinya Jantung Pemerintahan di Aceh Tamiang