Suaranya terdengar berat. Menurut Rocky, buku tulis seharusnya jadi hak dasar yang dijamin negara untuk setiap anak Indonesia.
"Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat untuk menjadi pemimpin di masa depan," jelasnya.
"Menjadi berguna bagi bangsa, menjadi seseorang yang terdidik tanpa dia harus mengatakan bahwa dia ingin memperoleh bonus demografi."
Ia kemudian menandaskan, "Jadi kita ada di dalam kondisi semacam itu untuk mulai membaca bagaimana disparitas pada akhirnya menghasilkan misery (penderitaan)."
Kata-katanya seperti menggambarkan dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri. Di satu sisi, narasi keberhasilan dikumandangkan lantang. Di sisi lain, di balik gemerlap angka pertumbuhan, masih ada realitas getir yang tak terbantahkan: seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena sebuah buku tulis.
Ironis, bukan? Sebuah peristiwa yang seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak dan merenung.
Artikel Terkait
Bus Transjakarta Dihalangi Demi Iring-Iringan, Alvin Lie Ingatkan Bom Waktu Amarah Rakyat
Surat Terakhir Bocah 10 Tahun di Pohon Cengkeh: Emoji Menangis dan Permintaan Buku yang Tak Sampai
War on Drugs for Humanity, Huha! – Jargon Baru BNN Gemparkan Rapat di Senayan
Lex Wu Soroti Kasus Pelecehan Sekda Raja Ampat: Ini Bukan Presisi, Ini Pengabaian