Di Davos, Swiss, seminggu lalu, suasana terasa berbeda. Prabowo Subianto berdiri di panggung World Economic Forum 2026, memaparkan capaian ekonomi Indonesia dengan penuh keyakinan. Gaungnya sampai ke seantero dunia.
Tapi, ribuan kilometer dari sana, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah cerita lain sedang berakhir dengan tragis.
Seorang anak kelas IV SD, baru sepuluh tahun umurnya, ditemukan meninggal. Ia gantung diri di sebuah pohon cengkeh. Penyebabnya, menurut keterangan, sederhana sekaligus menyayat hati: ia tak kunjung dibelikan buku tulis oleh ibunya yang sedang kesulitan ekonomi.
Peristiwa pilu ini terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, di Kecamatan Jerebuu. Inisialnya YS.
Kontras yang tajam antara panggung internasional yang gemerlap dan kesedihan di sebuah sudut NTT ini pun menuai sorotan. Pengamat politik Rocky Gerung tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.
"Pemerintah menggelorakan kembali kebesaran bangsa, bahkan sampai di forum-forum internasional, dibatalkan oleh peristiwa seorang anak berusia 10 tahun memutuskan gantung diri karena ibunya tidak bisa menyediakan dia buku tulis," ujarnya dalam kanal YouTube pribadinya, Selasa lalu.
Artikel Terkait
Bus Transjakarta Dihalangi Demi Iring-Iringan, Alvin Lie Ingatkan Bom Waktu Amarah Rakyat
Surat Terakhir Bocah 10 Tahun di Pohon Cengkeh: Emoji Menangis dan Permintaan Buku yang Tak Sampai
War on Drugs for Humanity, Huha! – Jargon Baru BNN Gemparkan Rapat di Senayan
Lex Wu Soroti Kasus Pelecehan Sekda Raja Ampat: Ini Bukan Presisi, Ini Pengabaian