"Kita jangan menutup mata," tambah Adi, "bahwa gagasan memperbaiki Indonesia adalah variabel penting. Pernyataan Prabowo menjadi relevan untuk menguji siapa idenya yang paling layak dipilih rakyat."
Di sisi lain, Adi juga menjelaskan sebuah fenomena politik yang nyaris jadi hukum besi. Pemenang pemilu, dengan sendirinya, akan menjadi trendsetter kebijakan. Ambil contoh kebijakan populisme kebangsaan yang dijalankan Prabowo sekarang; itu kan derivasi dari ideologi Partai Gerindra.
Polanya mirip. Gaya kepemimpinan SBY dulu beririsan dengan Partai Demokrat. Begitu pula Jokowi dengan PDI Perjuangan. Pemenang selalu membawa selera politiknya.
Maka, kompetisi 2029 nanti bakal lebih dari sekadar pesta demokrasi rutinan. Menurut Adi, itu akan menjadi momen "uji materi" bagi tokoh dan partai yang merasa punya solusi lebih baik. Jika gagasan alternatif mereka menang, ya sudah. Arah kebijakan negara kemungkinan besar akan berubah, mengikuti selera sang pemenang baru.
Artikel Terkait
Kisah Pilu Pemilik Toko HP: Korban Pencurian Berakhir Jadi Tersangka
Gus Murtadho: Tragedi Flores Cermin Kegagalan Negara, Prabowo Bagian dari Sistem Bobrok
Turis Jerman Kecewa, Pantai Kuta Tenggelam dalam Sampah
Kebakaran Hanguskan Rita Pasaraya Cilacap, Tiga Ruko Ikut Ludes