"Kita jangan menutup mata," tambah Adi, "bahwa gagasan memperbaiki Indonesia adalah variabel penting. Pernyataan Prabowo menjadi relevan untuk menguji siapa idenya yang paling layak dipilih rakyat."
Di sisi lain, Adi juga menjelaskan sebuah fenomena politik yang nyaris jadi hukum besi. Pemenang pemilu, dengan sendirinya, akan menjadi trendsetter kebijakan. Ambil contoh kebijakan populisme kebangsaan yang dijalankan Prabowo sekarang; itu kan derivasi dari ideologi Partai Gerindra.
Polanya mirip. Gaya kepemimpinan SBY dulu beririsan dengan Partai Demokrat. Begitu pula Jokowi dengan PDI Perjuangan. Pemenang selalu membawa selera politiknya.
Maka, kompetisi 2029 nanti bakal lebih dari sekadar pesta demokrasi rutinan. Menurut Adi, itu akan menjadi momen "uji materi" bagi tokoh dan partai yang merasa punya solusi lebih baik. Jika gagasan alternatif mereka menang, ya sudah. Arah kebijakan negara kemungkinan besar akan berubah, mengikuti selera sang pemenang baru.
Artikel Terkait
Napoli Amankan Kemenangan Tipis 1-0 atas Cagliari Berkat Gol Kilat McTominay
Luka Doncic Cetak 60 Poin, Bawa Lakers dan Momentum ke Level Baru
Tuchel Pangkas Skuad Inggris, Nol Pemain Liverpool Dipanggil
De la Fuente Umumkan Skuad Spanyol untuk Uji Coba Lawan Serbia dan Mesir