Di tengah Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan yang cukup menghentak. Ia secara terbuka mengajak para pengkritiknya untuk "bertarung di 2029". Bagi pengamat politik Adi Prayitno, ini bukan sekadar pernyataan biasa. Ini adalah tantangan politik terbuka.
"Ini statement politik terbuka dari Presiden," ujar Adi melalui kanal YouTube-nya.
Ia melihat ajakan itu sebagai upaya menguji apakah narasi-narasi berseberangan yang selama ini bertebaran benar-benar laku di mata rakyat. Intinya, mengurangi mereka yang kritis untuk menjual ide kontra-narasi di Pilpres nanti.
Dalam arahannya, Prabowo memang terlihat kesal. Ia menyayangkan pihak-pihak yang terus menjelekkan nama bangsa hanya karena ketidaksukaan pribadi. Jalannya jelas, kata Presiden. Jika tak setuju dengan gagasan atau kebijakannya, silakan berkompetisi secara konstitusional pada 2029.
Menurut Adi, pernyataan ini menjadi relevan karena menyentuh inti persoalan. Politik Indonesia, tegasnya, bukan cuma soal logistik atau uang semata. Pemilih rasional terutama dari kalangan menengah ke atas dan perkotaan memilih berdasarkan kapasitas, kompetensi, dan tentu saja, visi-misi.
Artikel Terkait
Kisah Pilu Pemilik Toko HP: Korban Pencurian Berakhir Jadi Tersangka
Gus Murtadho: Tragedi Flores Cermin Kegagalan Negara, Prabowo Bagian dari Sistem Bobrok
Turis Jerman Kecewa, Pantai Kuta Tenggelam dalam Sampah
Kebakaran Hanguskan Rita Pasaraya Cilacap, Tiga Ruko Ikut Ludes