“Realitas praktisnya sangat jelas: kecuali jika pengumpulan dana meningkat secara drastis, kami tidak dapat sepenuhnya melaksanakan anggran program 2026,” tulisnya dengan tegas.
Lalu ia menambahkan prediksi suram, “Lebih buruk lagi, berdasarkan tren historis, dana kas anggaran reguler dapat habis pada Juli.”
Seperti Deja Vu dari 2019
Ini bukan kali pertama PBB terperosok dalam krisis serupa. Kejadian mirip pernah mengguncang organisasi itu pada 2019 lalu, yang bahkan sempat mengancam pembayaran gaji puluhan ribu pegawainya.
Saat itu, Guterres juga mengirim surat edaran kepada 37 ribu karyawan sekretariat, menjelaskan bahwa mereka mengalami defisit akut sebesar 230 juta dolar AS.
Tak lama setelahnya, dia mengumumkan serangkaian inisiatif penghematan. Guterres, politisi kawakan asal Portugal itu, berargumen langkah-langkah ketat harus segera diambil agar lubang defisit tidak semakin menganga.
Kini, sejarah terlihat akan berulang. Pertanyaannya, apakah negara-negara anggota akan belajar dari masa lalu, atau membiarkan badan dunia ini terjebak dalam krisis yang sama untuk kedua kalinya?
Artikel Terkait
Prabowo Undang Ormas Islam Bahas Peran Indonesia di Dewan Perdamaian
Pujian Pakar AS untuk Program Makan Gratis Prabowo Berbanding Terbalik dengan Polemik Dalam Negeri
Megawati Hadiri Forum Kemanusiaan di Abu Dhabi, Didampingi Putra dan Rombongan PDIP
Ledakan Mengerikan di Pelabuhan Paotere, Sepuluh Nelayan Terlompat ke Laut