Tangisan Kaesang di Rakernas PSI Dipertanyakan, Gus Umar: Saya Tak Akan Tertipu Air Mata Politik
Rakernas PSI pekan lalu menyisakan satu momen yang ramai diperbincangkan: Ketum mereka, Kaesang Pangarep, menangis di atas panggung. Tangisnya pecah saat ia bicara soal berbagai hujatan dan kritik yang ia terima sejak memutuskan terjun ke politik. Ia merasa diremehkan, diserang secara pribadi, dan dicap cuma mengandalkan nama besarnya sebagai anak Jokowi.
Reaksi publik pun beragam. Ada yang simpati, tapi tak sedikit yang skeptis. Salah satu suara yang paling keras menyatakan keraguannya datang dari aktivis Nahdlatul Ulama, Umar Hasibuan, atau yang akrab disapa Gus Umar.
Bagi Gus Umar, tangisan di panggung politik bukanlah jaminan ketulusan. Lewat unggahan di media sosial, ia terang-terangan menyatakan sikapnya.
“Saya tak akan tertipu dengan tangismu,”
Begitu katanya, menanggapi langsung momen itu pada Senin (2/2/2026).
Menurut Gus Umar, air mata dalam dunia politik seringkali jadi alat. Strategi untuk membangun narasi korban, terutama ketika kritik dari publik mulai mengeras. Alih-alih larut dalam drama emosional, ia mendesak agar perdebatan tetap mengerucut pada hal-hal yang substansial. Misalnya, soal relasi kekuasaan yang timpang, hak istimewa yang melekat pada status tertentu, dan bagaimana seharusnya proses kaderisasi partai berjalan dengan sehat.
Ia juga mengingatkan, posisi Kaesang sebagai putra mantan presiden tetaplah sebuah keuntungan struktural yang besar. Narasi tekanan dan serangan, dalam pandangannya, tidak serta-merta menghapus privilege itu.
Namun begitu, di lain pihak, banyak pendukung Kaesang yang justru melihat tangisan itu sebagai sesuatu yang manusiawi. Bagi mereka, beban yang dipikul Kaesang tidaklah ringan: ekspektasi publik yang tinggi, tekanan sebagai figur baru, plus tanggung jawab memimpin partai di usia yang masih terbilang muda. Tangisan itu, kata mereka, wajar saja.
Peristiwa ini akhirnya memantik lagi perdebatan lama di ruang publik. Di mana sebenarnya batas antara ekspresi perasaan yang otentik dengan kalkulasi pencitraan di panggung politik? Di tengah iklim yang makin panas dan sarat emosi, pertanyaan itu seperti terus berulang. Publik kembali diajak memilah: mana air mata yang tulus, dan mana yang sekadar alat perang narratif.
Artikel Terkait
Polda NTT Bongkar 27 Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi, Negara Rugi Rp10,16 Miliar
Pakar: Langkah Prabowo Pertahankan Polri di Bawah Presiden Tepat Secara Politik dan Hukum
Bocah 11 Tahun di Cianjur Ditemukan Tenggelam di Sungai Setelah Dua Hari Hilang, Teman Akhirnya Buka Suara
Alokasi BBM Bersubsidi Sulsel 2026 Diproyeksikan Capai 1,9 Juta Kiloliter, Pertamina Perketat Pengawasan