Lalu, ada sebuah momen yang mencekam. Listyo Sigit menggalang pasukan bagai hendak maju ke medan perang. Ia mengukuhkan diri layaknya ketua partai sebuah "Partai Kepolisian Indonesia". Peristiwa itu terjadi dalam Apel Ksatria Bhayangkara suatu malam di Mako Brimob, Cikeas, Bogor.
Ribuan obor menyala, menciptakan suasana khidmat sekaligus mencekam. Diikuti oleh para pejabat tinggi Polri, apel yang diikuti sekitar 600 personel itu seolah menjadi jawaban tegas atas dua tuntutan publik: investigasi keterlibatan Polri dalam kerusuhan Agustus-September 2025, dan desakan untuk mereformasi tubuh Polri. Komando Kapolri untuk mempertahankan status quo hingga titik darah penghabisan semakin memperjelas jawaban itu. Ikrar Ksatria Bhayangkara, dalam konteks ini, terasa seperti tekad untuk siap perang melawan aspirasi masyarakat.
Apel obor November 2025 itu, mudah-mudahan, tidak mengingatkan kita pada pesta obor di Halim pada Oktober 1965. Semoga pula kiprah politik Polri yang semakin luas tidak mengubahnya benar-benar menjadi Partai Kepolisian Indonesia. Dan harapannya, kesiapan Jenderal Listyo Sigit menjadi petani bukanlah sinyal untuk membentuk Barisan Tani Indonesia yang baru. Polri harus tetap menjadi penjaga keamanan, Angkatan Keempat, bukan menjelma menjadi kekuatan politik sebagai Angkatan Kelima.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk melakukan perubahan. Mungkin dengan mengganti pimpinan. Satu hal yang pasti: reformasi Polri adalah harga mati.
") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 2 Februari 2026
Artikel Terkait
Kucing Tewas Ditendang di Blora, Pelaku Sudah Teridentifikasi Polisi
Kuasa Hukum Roy Suryo Bela Klien: Tudingan Ijazah Palsu Jokowi Bukan Penghinaan, Tapi Opini Publik
Kominfo Cabut Blokir Grok AI, Tapi dengan Pengawasan Ketat
Kegelapan Kiev Bergema Dentuman Musik, Warga Menari Melawan Keputusasaan